Senin, 18 April 2016

APA KABAR MAHASISWA KEKINIAN?



Kekinian, kata yang bisa dibilang sangat popular saat ini. Bagaimana dengan “Mahasiswa Kekinian”? Apa yang terlintas dibenak kalian saat mendengar kalimat tersebut?


                Mengutip pendapat dari seseorang yang sebenarnya gak gue kenal dia itu siapa, tinggalnya dimana, tanggal lahirnya berapa, kerjanya apa, jomblo atau taken, dan seluk beluknya seperti apa, tapi sebut saja dia Romeo. Menurut dia, Mahasiswa Kekinian itu adalah mahasiswa yang selalu mengikuti zaman, selalu update tentang hal-hal baru, mengikuti perkembangan fashion.


                Gue sebenarnya setuju dengan pendapat ini, tapi tulisan kali ini akan lebih mengedepankan opini yang sedang berkecamuk di otak gue. Gue mau menyoroti posisi mahasiswa sekarang dibandingkan dengan pergerakan mahasiswa zaman dulu.


                Mungkin ada yang ingat bagaimana hebatnya pergerakan mahasiswa dulu untuk merebut kemerdekaan melalui karya jurnalistik, atau pergerakan mahasiswa saat meruntuhkan kabinet  Soeharto. Itulah sedikit gambaran tentang bagaimana peran mahasiswa dulu.


                Sekarang ini mahasiswa seakan acuh terhadap masalah yang terjadi, banyak sekali mahasiswa yang tutup mata dengan ketidakadilan yang terjadi bahkan dihadapan mata mereka. Mungkin masih banyak yang menyuarakan ketidakadilan itu lewat media sosial, tapi bukankah satu tidakan lebih baik dari seribu kata?


                Tak ada yang salah dengan itu, tapi apa dengan menulis status menghujat dan menghina bisa memperbaiki sesuatu? Apa dengan status-status tak bermakna itu bisa membawa satu perubahan? Bahkan media sosial yang kalian gunakan tidak memiliki akses untuk bisa dilihat oleh pihak bersangkutan, apa itu yang dinamakan perjuangan? Apa itu yang dinamakan suara atas ketidakadilan?


                Menulis memang dianjurkan, tapi kalau hanya berisi hujatan atau opini sesaat yang akan hilang jika permasalahan terselesaikan walau nyatanya masalah itu bisa kembali lagi lebih baik membantu memikirkan apa solusi yang bisa dilakukan.


                Di era globalisasi sekarang ini tak dapat dipungkiri media sosial memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Kalian pasti tahu paling tidak satu akun media sosial yang mengatasnamakan mahasiswa. Contoh saja di media sosial instagram, banyak sekali akun-akun tentang mahasiswa. Tapi gue yakin kalian tahu pasti apa yang sering mereka repost di akun-akun tersebut.


                Memang benar kegiatan mahasiswa, tapi kegiatan semacam selfie atau sejenisnya itulah yang lebih banyak di-repost. Followers akun-akun tersebut juga terbilang banyak. Meskipun sesekali memposting kegiatan mahasiswa yang memang seharusnya dikedepankan, tapi lebih dominan menyoroti mahasiswa yang mereka anggap ganteng atau cantik.


                Salah satu post yang sangat popular dikalangan mahasiswa terutama saat ini adalah meme, sangat memprihatinkan memang (jika kalian memikirkan kembali apa seharusnya yang mereka dominankan dalam akun tersebut). Tapi ini juga bukan sepenuhnya salah para admin akun tersebut, mungkin mereka hanya mengikuti arus. Menyesuaikan diri dengan kehendak pasar, kehendak para followers mereka.


                Disisi lain, sekarang ini mana ada mahasiswa yang mau berunjuk rasa turun kejalan, memang sebenarnya masih ada. Tapi apakah masih bisa sehebat dan sebanyak mahasiswa dulu? Ah, banyak yang saat diberikan sedikit perlawan dari aparat saja nyalinya langsung ciut. Unjuk rasa berikutnya mana mau dia ikut lagi. Hanya segelintir mahasiswa yang peduli dengan ketidakadilan.


                Mereka menolak diam, menolak tutup mata. Mereka yang seperti ini harusnya didukung, asal yang mereka lakukan masih sesuai dengan Pancasila. Kita ini hidup di negara yang memiliki Pancasila sebagai pedoman hidup. Saat apa yang dilakukan para petinggi negara tidak sesuai dengan Pancasila, harusnya kita sebagai mahasiswa menyuarakannya, menuntut pengembalian Pancasila menjadi dasar bernegara, bukan kekuasaan dan jabatan yang menjadi dasar berjalannya negara. Yang kalau pemimpinnya berganti, semua tatanan negara juga harus berganti. Yang semua orang tunduk pada apa yang dilakukan pemerintah meski tak sesuai Pancasila. 


                Ada juga mereka yang bekerja sebagai wartawan kampus, tapi apa yang mereka tulis jauh sekali dengan apa itu persma (pers mahasiswa). Jarang sekali ada yang mengkritisi birokrasi dan permasalahan kampus, apalagi mengkritisi permasalahan negara.


                Mereka kini lebih suka menyoroti kehidupan mahasiswa, kehidupan yang jauh dari realita birokrasi. Headline yang gue rasa gak seharusnya menjadi sorotan utama mereka. Mereka seakan tak berani menyuarakan bagaimana permasalahan birokrasi yang selama ini terjadi. 


                Ketakutan dan tekanan mungkin saja terjadi. Tapi selama kita menyuarakan kebenaran apa yang harus ditakutkan?


                Warga negara yang baik bukan yang tidak pernah melanggar hukum, tapi warga negara yang baik adalah mereka yang mengembangkan ilmu pengetahuannya dan memberikan kontribusi terhadap berjalannya negara yang sesuai dengan dasarnya. 


                Dalam penulisan opini ini gue rasa banyak sekali kekurangnya. Kalau gue boleh mengenalkan diri (pasti boleh dong ya, orang ini blog gue *hehe), gue ini seorang mahasiswa semester 2 disebuah perguruan tinggi negeri yang paling terkenal ditempat gue *halah. Gue menulis opini ini karena gue gak mau jadi gila karena pendapat ini membusuk di otak gue.


                Mungkin buat kalian yang sudah baca tulisan gue sebelumnya, kalian pasti tahu kalau gue ini introvert. Gue lebih suka menyuarakan apa yang gue rasakan lewat tulisan.


NOTE : INI CUMA PENDAPAT GUE YANG GUE TULIS BERDASARKAN FAKTA-FAKTA YANG SAAT INI TERJADI.


Terima kasih  sudah mau membaca. Mohon komen kalau menurut kalian saya salah. Mari berdiskusi kakak ^^

Rabu, 23 Maret 2016

CERITAKU KINI TENTANGMU, IBU

Malam ini bulan seperti tak ingin menampakkan wajahnya, bintang yang tadinya bersinar tak terlalu terang tertutup awan yang terbawa angin dari barat daya. 

Listrik mati di pulau penuh energi seperti sudah menjadi pengantar malam setiap latihan di lapangan ini. Aku berbaring menatap langit berawan. Termenung mendengarkan apa yang dikatakan pelatihku.
Cerita yang sebelumnya selalu aku gembar-gemborkan pada dunia tentang diriku, tentang keluargaku. Ya, cerita tentang ibu.

Pikiranku terbang, melayang membayangkan apa yang aku lakukan sampai saat ini. Aku selalu menyalahkan keadaan. Tanpa aku peduli apa yang dulu dan nanti terjadi.

Sudah lebih dari 7 bulan aku jauh dari rumah, menjalani proses mewujudkan mimpi yang tanpa aku sadari aku sendiri yang merangkainya. Emosi dan keegoisan membutakan mata hati, membuatku selalu percaya ini bukan mauku, bukan keinginan dan jalan yang aku pilih.

Teringat lagi sebulan yang lalu, terakhir kali aku pulang ke rumah. Aku selalu mencari barang favoritku, laptop. Tak sengaja aku temukan sebuah buku yang akupun tak mengerti apa maksudnya. "99 Cara Mengerti Anak", judul yang sudah sedikit aku lupa. Entah ini yang membuat ibuku sedikit lebih lembut atau entahlah.

Bertemu dengan ibu, sesuatu yang selalu membuat aku canggung dan merasa aneh. Kini saat bertemu atau saat di rumah jarang sekali aku dengar ibu meninggikan suaranya seperti dulu, bahkan aku tak pernah lagi mendengarnya menegurku ketika menghabiskan makanan yang ia bawa.

Aku mulai tersadar dari lamunanku, tak terasa mataku mulai berkaca, air mata tak dapat lagi kutahan. Untung lampu masih belum menyala, jadi aku tak perlu malu untuk menyeka airmata. Kuambil hp dari dalam tas, kembali lagi aku rebahkan diri di lapangan ini.

Mencoba menghilangkan sejenak fokus pada pembicaraan coach-ku, ku mainkan game favoritku. Ah, masih tak bisa. Hatiku masih terasa ngilu, ku buka aplikasi favoritku selanjutnya, piano. Mulai ku memainkan jemari, menekan not nada secara acak. Entah sadar atau tidak, aku mulai memainkan lagu bunda.

Air mata kembali menetes, mengalir dari sisi mataku. Ku resapi setiap dentuman nada yang ku mainkan sendiri. Meresapi setiap cerita tentang ibu.

Kembali aku merenung, oh Tuhan apa yang sudah aku kira tentang ibuku? Bagaimana bisa aku tak bisa mengertinya, mengerti dia yang walau dengan kerasnya berusaha mengerti aku? Maafkan aku yang tak pernah bersyukur memiliki ibu sepertimu bu.

Kini aku tahu betapa berharganya kehadiranmu, betapa pentingnya dirimu dalam kehidupanku. Aku akan belajar mendekatkan diriku denganmu, menghancurkan egoisku yang selama ini membutakan hati dan pikiranku. Oh ibu, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan hadirmu.

Entah bagaimana aku harus mengungkapkan rasaku untukmu bu, mungkin jika ada kalimat yang lebih bermakna daripada sekedar AKU SANGAT MENCINTAIMU, itulah yang bisa menggambarkan perasaanku, IBU.

Dari anak perempuanmu yang kini berusia 18 tahun.~

Sabtu, 16 Januari 2016

I'M AN INTROVERT

PROUD TO BE AN INTROVERT

Introvert… Mungkin sudah sering terdengar ditelinga kalian. Menjadi bagian dari kaum yang mungkin hanya ada sekitar 25% dari total penduduk bumi menjadikanku seperti orang aneh dan berbeda dari manusia kebanyakan. Ya, tapi itulah yang membuat kami istimewa.

Menjadi seorang introvert memang menyenangkan, tapi tidak selamanya begitu. Kesendirian, hal yang bagiku sangat menyenangkan. Bagiku berada dalam keramaian itu terlalu menguras energi, bahkan kadang dalam keramaian aku masih merasa kesepian. Seperti sebuah quote dari satu film yang sebenarnya belum aku tonton, “Kesepian itu terjadi bukan ketika kita sendiri, namun kesepian itu terjadi ketika kita diantara banyak orang namun tidak ada yang mengerti”. Begitulah singkatnya.

Bagiku, berada ditengah keramaian bukan hanya menguras energi tapi juga membuatku merasa tidak nyaman. Terlihat seperti pemalu memang, tapi tanya saja dengan mereka yang mengenalku aku bukan seorang pemalu. Hanya tidak pernah nyaman, seperti ada sesuatu yang aneh dan mengganggu pikiranku. Apalagi saat perhatian tertuju padaku, dalam benakku selalu muncul pertanyaan “apakah ada yang salah dengan diriku?”. Terkesan aneh, tapi itulah kenyataannya.

Pemikiranku yang terlalu logis dan realistik mungkin membuat banyak orang kadang bertanya-tanya, apa mungkin aku tak punya perasaan atau apa. Aku memang tak ingin memberikan tanggapan seperti yang mungkin ada dipikiran orang kebanyakan. Melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, itulah yang aku lakukan. Aku terlalu menyukai klausa sebab-akibat, intinya sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya jadi tak usah terlalu diributkan.

Teman akrab? Hmm… Aku tak punya banyak. Aku tak suka membicarakan orang lain dalam konteks kekurangannya. Dan aku tak begitu menyukai orang yang melakukannya. “Before judge someone or something, please look at yourself first.” Sebuah prinsip yang selalu aku pegang, karena aku sadar di dunia ini semua itu jauh dari kata sempurna. Aku adalah orang yang tak pernah bisa menceritakan tentang diriku kepada orang lain, tapi saat aku sudah merasa dekat dengan seseorang dan mempercayainya, rahasia terbesarku pun bisa saja aku ceritakan.

Aku juga tak menyukai pertentangan, itu yang membuat aku tak ingin terlalu dekat dengan sekelompok orang. Saat aku merasa mulai terlalu dekat dengan kelompok itu, satu hal yang aku lakukan adalah mulai menjauh. Apalagi saat mereka sudah mulai saling menjelekkan. Bukan tak ingin lagi berteman, hanya saja aku tak ingin berada dalam pihak manapun. Aku ingin berteman dengan semua orang, jadi jangan kalian tanyakan apapun denganku tentang sebuah pertemanan.

Tapi soal kesetiaan, tak perlu kalian ragukan. Aku memang tidak mempunyai banyak sahabat, tapi saat aku memilikinya aku tak pernah menyiakannya. Karena sangat sulit bagiku untuk menemukan seseorang yang dapat mengerti dan memahamiku. Apalagi dengan apa yang terjadi dikehidupanku, dan apa yang pernah terjadi di masa laluku.

Kadang aku memang terlihat seperti seorang yang banyak bicara,  tipe orang yang mudah bergaul, dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Tapi kenyataan mengatakan sebaliknya, banyak bicara membuatku lelah. Itu sebabnya aku sering tiba-tiba berdiam diri sesudah banyak bicara. Mudah bergaul, tidak sepernuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya salah. Aku hanya ingin berteman dengan semua orang, tapi tidak untuk dekat dengan semuanya. Soal kepercayaan diri, itu tergantung situasi.

Aku lebih menyukai bermain dengan dunia dalam pikiranku sendiri dibanding dengan dunia nyata. Aku bisa mengexplorasi alam pikiranku, membuat dunia berdasarkan imajinasi dan keinginanku sendiri. Itu sangat menyenangkan bagiku.

Begitu sulit mengucapkan sesuatu, menceritakannya lewat lisan. Itu sebabnya aku lebih suka menulis, karena tak semua yang aku ingin bagikan bisa aku ucapkan. Tapi kadang tersiksa juga, saat banyak yang ingin aku bagikan tapi dunia pikiranku terlalu banyak menampung ide tentang apa yang harus aku bagikan.

Satu quote lagi yang aku ingin bagikan, “Kegagalan berawal dari sebuah keegoisan.” Maaf jika tulisan saya mengganggu anda, hanya ingin membagikan sedikit tentang saya. Tak perlu anda percaya, yang penting anda baca :)

Selasa, 17 November 2015

IBU


Ibu, sosok yang mungkin paling kurindukan saat ini. Bukan karena dia tidak ada, tapi karena kasih sayangnya tak pernah bisa dimengerti oleh seorang gadis kecil yang belum dewasa ini. Ya, Ia sangat keras kepala. Sampai-sampai aku yang sudah berusia 17 tahun ini tak mampu menangkapnya dalam logika.

Aku dan Ibu, layaknya dua orang yang tak saling mengenal atau setidaknya hanya kenal biasa. Ibu, orang yang sibuk dengan kesibukannya, jadwal hariannya sangat padat. Bahkan hari libur pun tak menjamin ia berada di rumah. Aku tahu itu salah satu caranya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi tetap saja aku masih tak bisa mengertinya.

Aku dan Ibu, dua orang wanita yang sangat jarang saling menyapa. Mungkin itu yang membuat kami semakin menjauh. Keegoisan, keras kepala, dan selalu ingin dimenggerti adalah kesamaan yang kami miliki.

Tahukah engkau, bu?
Anak gadismu ini pernah salah arah, pernah salah langkah, pernah masuk ke dunia yang mungkin engkau sendiri tak pernah membayangkannya. Kecewa pasti jika kau tahu apa yang pernah aku alami, tapi percayalah bu anakmu ini tak pernah bermaksud seperti itu.

Kadang saat aku melihat mereka yang bisa dekat dengan orang tuanya terutama ibunya, aku sangat iri bu. Tapi tak lama aku menjadi merasa sangat hina, saat melihat orang yang bisa bahagia walau ibunya tiada. Aku merasa sangat tidak bersyukur, sangat tidak berterimakasih pada Tuhan. Bagaimana tidak, aku masih punya orang tua lengkap, aku punya ibu dan ayah. Aku tak ingin lagi menyalahkan keadaan, tak ingin lagi berharap terlahir dalam keluarga berbeda, tak ingin lagi lari dari kenyataan bahwa engkau adalah ibuku.

Aku tahu betul bahwa cinta dan kasih sayang memang tak harus selalu diucapkan dengan kata. Tapi setidaknya aku juga memerlukan itu bu. Aku membutuhkanmu disampingku. Aku juga tahu betul bahwa cinta dan kasih sayang itu bisa berbentuk apa saja, tapi tahukah engkau ibu saat engkau berkata kasar padaku atau saat kau berlaku kasar padaku saat itu juga aku semakin menutup diri darimu. Aku takut ibu.

Ibu, aku ini hanya anak kecil yang merindukanmu. Merindukan pelukkan hangatmu, sentuhan lembut tanganmu, dan ucapanmu yang mampu menenangkan jiwaku yang sedang beranjak dewasa ini. Bu, bisa kita seperti mereka di luar sana? Bisakah kita berbicara bebas berdua tanpa ada rasa canggung? Bisakah kau tak berlaku kasar padaku? Bisakah kau memberikan kasih sayangmu dengan cara yang bisa aku mengerti? Bisakah bu? Atau setidaknya ajari aku caranya mengerti dirimu.

Aku ini hanya anak gadis berusia 17 tahun yang ingin tumbuh dewasa bersama kasih sayangmu Ibu.~ HFW

Minggu, 25 Oktober 2015

Crazy Boy

Saat jam pelajaran berlangsung, seperti biasa aku berada di atap, menatap kosong ke arah siswa yang sedang olahraga. Aku ini anak dari pemilik sekolah ini, anak yang menjadi ketidakdewasaan orang tuanya, anak yang dianggap gila dan bodoh. Selain tidur di kelas, membolos juga merupakan bentuk dari kesepianku.
 
Seseorang mengejutkanku....
"Hei..." Aku langsung berbalik, ternyata beliau adalah wali kelasku, seorang guru matematika yang juga sangat mengenalku dan ayahku.
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu pak?" Aku langsung bisa menebak, kami cukup akrab tentunya.
"Kamu sendiri?" Beliau balik bertanya.
"Haruskah kita saling bercerita?" Tanyaku.
"Haruskah? Baiklah, aku dulu." Sambil menarik nafas.
"Tanganku ini sangat kotor, ada seseorang disampingku yang terjatuh dengan tangan bersih. Tapi apa aku punya hak untuk memegang tangan mereka dan membantu mereka berdiri?"
(Sambil menepuk-nepukkan tangan) "Memangnya harus ada hak untuk membantu seseorang? Jika tanganmu kotor, kamu masih bisa memegang tangannya lalu kalian bisa mencucinya bersama bukan?" Entah apa yang aku pikirkan tapi itu keluar begitu saja dari mulutku.

Who are you? School : 2015.~

Minggu, 18 Oktober 2015

TITIK BALIK


              Jam berdentang dua kali, menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku masih terjaga bersama film yang sedang kuputar di laptopku. Malam semakin larut, sunyi sudah sejak tadi menghampiri, bahkan suara jangkrikpun tak lagi menemani. Tiba-tiba aku mendengar suara sepeda motor seperti berhenti di depan rumah, aku mulai gemetar, takut dan gugup pun mulai bersatu padu. Pikiranku melayang tak tau entah kemana, aku mulai berprasangka buruk. Tak lama kemudian suara kendaraan itu terdengar seperti berjalan menjauh. Aku mulai tenang.
“Tok...tok...tokk”. Tiba-tiba aku mendengar suara orang mengetuk pintu beberapa kali. Perasaanku yang tadinya mulai tenang kini semakin gelisah tak menentu, otakku kembali menampilkan imajiasi-imajiasi gila. Aku tak bisa lagi berpikir, badanku terasa kaku tak bisa bergerak. Ku matikan laptopku. Suara ketukkan itu sudah tak lagi terdengar, namun pikiranku masih liar. Yang ada dipikiranku itu mungkin adalah perampok yang ingin merampok sekaligus membunuh keluargaku.
“Yah...” Aku memberanikan diri keluar kamar dan memanggil ayahku.
“Hmm... Ada apa?” Ayahku menyahut pelan, mungkin karena masih terlarut dalam mimpi-mimpinya.
“Tadi kayaknya ada orang ngetuk pintu, yah.” Aku bicara apa adanya.
“Ah mungkin itu cuma perasaan kamu saja nak.” Sahut ayahku dari dalam kamar.
“Benar yah, aku gak bohong.” Jawabku dalam kondisi ketakutan.
“Sudah, tidur sana. Itu pasti gara-gara kebanyakan begadang.” Ibu mulai berkata.

            Dengan perasaan yang masih tak menentu, aku mulai menerima saran ibuku. Tapi aku tak berani masuk ke dalam kamar sehingga aku putuskan untuk tidur di ruang keluarga. Mulai kunyalakan tv dan berbaring di sofa panjang. Bukannya semakin tenang, perasaanku makin gelisah, semakin dihantui bayangan tentang kematian dan pembunuhan. Acara tv tak satupun yang bisa mengalihkan pikiran-pikiranku yang amat manakutkan itu.
“Yah, tetap gak bisa tidur.” Aku kembali berteriak di depan kamar ayah ibuku. Tak lama kemudian ayah keluar dan menemaniku tidur di ruang keluarga.
“Baca surah An-Nas.” Kata Ayahku sembari memijat kakiku.
Aku membaca surah An-Nas dalam hati berkali-kali, tapi tetap saja tak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 WITA, tapi mataku masih saja terjaga. Bayangan tentang kematian itu semakin menjadi-jadi, aku mulai berpikir aku akan masuk neraka dengan begitu banyaknya dosa yang aku perbuat, bahkan kalian tahu? Mungkin terakhir kali aku sholat itu saat kelas 1 SMP, saking lamanya aku sampai lupa baca-bacaan sholat. Aku mulai berpikir bagaimana caranya aku bisa menghapus atau setidaknya mengurangi dosaku, terbersit jelas dibenakku untuk bertobat dan kembali kejalan yang benar-benar lurus. Sejak saat itu aku berjanji dalam hati untuk belajar tata cara sholat dan mulai mengaji lagi.

            Oh ya aku sampai lupa, perkenalkan namaku Hafizah Fikriah Waskan. Sampai saat ini mungkin aku sudah mengoleksi lebih dari 100 nama panggilan, tapi kebanyakan memanggilku Hafizah atau Waskan. Aku lahir dan dibesarkan di keluarga yang menurutku sangat sibuk, bahkan kita hampir tak punya waktu untuk berbicara satu sama lain. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, umurku baru menginjak 17 tahun dan aku anak perempuan satu-satunya. Saat aku lahir, bidan yang membantu persalinan ibuku mengatakan bahwa aku ini berjenis kelamin laki-laki karena tertutup tali pusar sampai ayahku memberiku Muhammad tapi belum sempat memotong tali pusar sang bidan menyadari bahwa aku ini ternyata perempuan, dan akhirnya namaku langsung diganti menjadi Hafizah. Itu sekilas yang kutahu dari cerita ayahku, mungkin karena itu juga aku jadi se-tomboy sekarang. Besar dalam keluarga yang tak terlalu fanatik dengan agama membuatku tumbuh dalam belenggu kebutaan tentang agama, meski tak sepenuhnya buta, mungkin bisa dibilang hanya katarak saja.

Masa liburku tinggal beberapa hari, sudah hari jum’at dan senin sudah harus kembali bersekolah dengan status baru, siswa kelas XII. Ini sudah hampir seminggu dari kejadian itu, tapi rasa takut masih saja menghantui hari-hariku, sampai aku tak tahan lagi untuk membagi rasa ini dengan ayahku. Beberapa jam saja terasa berhari-hari bagiku untuk menunggu ayahku pulang dari kantornya. Akhirnya ayah dating.
“Yah, Rasanya gak enak banget. Rasa kepikiran bentar lagi mau mati.” Ucapku tergugup-gugup.
“Ah itu mungkin cuma perasaan kamu saja.” Ayahku menjawab dengan santainya.
“Coba pegang telapak kaki kamu, dingin gak?” Ayah menyuruhku.
“Iya, lumayan dingin yah.”Balasku.
“Wah mungkin itu hanya efek maag dan stress, makanya kamu jangan begadang-begadang lagi.” Tebak ayahku.

            Beberapa waktu berlalu, hari-hariku masih dihantui bayangan kematian dan neraka yang selalu menghadang mengiringin setiap langkahku. Hari itu hari pertama sekolah di semester 5, tepatnya semester 1 untuk kelas XII. Aku kira sekolah bias membuat perasanku lebih baik, ternyata bukannya semakin baik tapi malah semakin parah. Tiap ada kesempatan aku selalu berusaha menelfon kedua orang tuaku, entah kenapa saat jauh dari mereka perasaan takutku semakin tinggi dan semakin menghantui pikiranku.
“Waskan, kamu kenapa?” Tanya Laili, teman akrab yang duduk bersampingan denganku.
“Gak papa kok, emang kenapa?” Aku bertanya balik.
“Gelagatmu aku lihat kayak cacing kepanasan, terus mukamu juga pucat.” Lanli menjawab dengan nada setengah bertanya.
“Gakpapa, mungkin efek gugup jadi murid kelas XII. Hehe” Aku tertawa kecil.
“Oh yasudah kalau begitu, misalnya kamu perlu bantuan bilang ya.” Ucapnya.
“Iya.” Jawabku singkat.
Aku tak bisa berpikir logis, pelajaran tak ada satupun yang masuk ke otakku. Pikiranku selalu saja melayang-layang, sebentar memejamkan mata itu artinya aku harus siap merasakan ketakutan yang luar biasa.

            Tertahan, ingin teriak tapi tak bisa berucap. Mungkin sedikit menggambarkan perasaanku saat itu. Hari-hari disekolah kulewati dengan kegelisahan, keringat dingin, dan ketakutan. Ayahku mulai tak nyaman melihat kondisi yang semakin hari semakin parah saja. Sampai memintakan air pada guru spiritualnya, sampai meminta guru bimbingan konselingku, Pak Sarwani namanya, beliau juga merupakan guru ayahku waktu SMA untuk mengetahui apa sebenarnya masalahku.
“Begini nak, bapak dapat laporan dari ayah kamu. Katanya kamu lagi ada masalah ya? Ayo gak usah sungkan-sungkan cerita sama bapak.” Pak Sarwani mulai membuka pembicaraan.
Aku mulai menceritakan yang sebenarnya aku rasakan, aku berusaha jujur. Walaupun aku rasa ini sangat memalukan, tapi setdaknya kalau au berbagi mungkin ada solusi.
“Justru kalau kamu ingat mati itu baik, kita jadi lebih berhati-hati untuk melakukan sesuatu dan itu juga dianjurkan dalam islam.Orang mau mati itu gak akan ingat mati.” Kata bapak Sarwani menanggapi ceritaku.
Sejak saat itu aku merasa sedikit lebih tenang. Tapi masih dalam bayangan kematian, rasa takut itu semakin menjadi-jadi ketika aku berada jauh dari kedua orang tuaku.

            Aku punya pacar namanya Wian, setiap malam semenjak kejadian yang membuat aku merasaan akan segera mati itu aku mulai menjauhinya, aku mulai jarang menghubunginya, bahkan setiap hari aku selalu berbicara bahwa aku tak ingin pacaran lagi tapi tidak minta putus. Sampai suatu hari, setelah aku mempertimbangkan dengan sangat matang dan menggali lebih dalam tentang pacaran dalam islam, aku akhirnya memberanikan diri minta putus darinya.

            Hari ini tepat 375 hari kami menjadi sepasang kekasih, sebenarnya aku sudah ingin mengakhiri hubungan ini saat hari jadi kami yang pertama. Tapi pasti itu akan sangat menyakiti hatinya.
Semua telah berakhir, tak mungkin bisa dipertahankan…
Hanya luka jika kita bersama, karena jalan ini memang berbeda…
Semua yang terjadi tak akan kembali, jalan kita memang berbeda…
Namun hati ini tak ingin kembali…
Kuyakin kita ‘kan bahagia tanpa harus selalu bersama…
Tak perlu disesali, tak usah ditangisi…
Catatan suaraku menyanyikan Lagu Jalan Terbaik dari Seventeen ku kirim, ini masih terlalu pagi ya aku tau dipasti belum bangun. Sekitar 10 menit kemudian,
“Apa maksud ikam ngirim voice note keitu? Handak ikam apa?” Dia bertanya apa maksud dan tujuanku mengirim catatan suara seperti itu.
“Maaf, aku bujuran kada handak pacaran lagi. Aku takutan. Aku handak bujur-bujur belajar islam. Tapi aku kada handak kita bemusuhan, aku handak kita tetap bekawanan.” Aku menjelaskan bahwa aku tak ingin lagi pacaran dan ingin belajr tentang islam, dan aku ingin tetap menjadi temannya.
“Ok, mun kahandak ikam keitu.” Aku seperti mendengar suara tangis tertahan, aku tau hatinya pasti sangat hancur. Sama saja hatiku juga hancur, tapi aku tahu Allah pasti memberikan jalan dan kebahagian untukku.

            Aku masuk sekolah seperti biasa, iya masih dalam ketakutan walau sudah lebih lega. Aku masih sering menelfon ayahku. Sepulang sekolah aku langsung menuju rumah, diperjalanan aku terbayang lagi, ketakutan yang luar biasa kembali menghantui. Laju kendaraan mulai ku turunkan, aku mulai berhati-hati. Tak henti-hentinya ingatanku mengingat pada satu janji, aku akan belajar sholat dan itu belum aku tepati. “Baiklah, aku harus belajar secepatnya.” Ucapku dalam hati.

            Aku mulai mencari buku cara sholat ditumpukkan buku-buku lamaku untung saja aku menemukannya. Kubaca dan aku pahami setiap langkah, pertama aku belajar berwudlu. Tidak terlalu mudah memang, ditambah lagi daya ingat otakku tidak berjalan dengan sempurna. “Ini baru wudlu, gimana sholatnya ya?” pikirku singkat. Tapi aku tetap berusaha belajar, mulai teratur semuanya meskipun kadang suka lupa niatnya. Bersamaan dengan itu juga aku mulai belajar sholat, tidak langsung praktik tapi mulai dari menghafal bacaan dan artinya. Setelah aku rasa cukup, aku mulai mempraktikkannya. Mungkin banyak kesalahan, tapi seiring berjalannya waktu aku sedikit demi sedikit belajar dan mencari tahu seperti apa sholat yang benar itu.
“Waskan, ayo kita ke masjid.” Ajak seorang teman akrabku, namanya Adelya Rahmah tapi cukup panggil dia Adel saja.
“Ayo!!” Aku menyahut dengan penuh semangat, walau masih gugup karena baru belajar sholat dan takut kalau seandainya ada yang salah.
Dalam posisi sholat, aku sangat gugup. Bagaimana tidak, aku baru pertama kali ini sholat bersama teman walau tidak berjamaah, aku semakin gugup saat melihat temanku sudah selesai sholat padahal aku baru masuk rakaat kedua. Harap dimaklumi, aku masih belum bisa khusyuk dalam sholat dan masih harus belajar banyak.
“Del, kamu kok sholatnya cepet banget?” Aku bertanya. Adelpun menjelaskannya.

            Hari-hariku kini terasa lebih tenang, pikiran-pikiranku tentang kematian dan ketakutan mulai bisa kujinakkan meskipun tak sepenuhnya. Kini aku lebih dekat dengan Allah, Tuhanku yang maha segalanya. Pernah beberapa kali ketakutan itu muncul kembali, tapi dalam situasi dan kondisi dimana aku mulai membelok lagi, mulai melenceng dari jalan kebenaran.

            Bukan hanya hidup lebih tenang, aku bahkan tak menyangka bisa menjadi juara kelas bahkan juara 2 untuk nilai ujian nasional jurusan IPA di sekolahku, meski hanya masuk 10 besar kabupaten tapi aku sangat bersyukur. Seingatku aku sudah tidak pernah mendapatkan juara 1 atau juara 2 semenjak SMP, padahal dulunya aku selalu juara pertama di SD. Kalaupun dapat ranking 2 itu juga harus berbagi tempat dan akhirnya terlempar menjadi yang ketiga.

            Semenjak perubahan itu juga aku lebih sering mewakili sekolahku untuk bermacam lomba dan kegiatan, awalnya dulu mungkin hanya dua bulan sekali. Tapi sekarang bahkan aku pernah dalam sehari mengikuti dua lomba sekaligus dalam 1 hari dan itu berbeda kota. Bahkan teman-temanku memberiku gelar “Ratu Dispens”.

            Pernah sekali aku mulai lelah, mulai hilang arah, mulai gundah lagi, saat itu aku mengikuti beberapa test kuliah dan hasilnya nihil. Tapi saat aku melaksanakan kewajibanku, prestasiku terus saja naik bahkan tanpa usaha yang berarti selain sholat dan doa, aku sampai berpikir kalau sholat saja bisa membuatku begini, bagaimana jika aku tambah dengan usaha keras? Pastinya akan sangat memuaskan dan melebihi yang aku harapkan. Dan Kini aku percaya dan yakin bahwa Janji Allah itu nyata.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” QS. AL-Baqarah (2: 153)

Selasa, 06 Oktober 2015

Kabut Asap, Bahaya yang Jadi Penyelamat



       Berat rasanya harus berpisah dari seorang yang sangat aku cintai, seseorang yang selalu mengerti dan tahu bagaimana caranya menyayangi.

    Namanya Ahya, cinta pertamaku. Entahlah, orang bilang ini hanya cinta monyet, cinta anak SMP yang baru beranjak remaja tapi aku rasa dia yang terbaik dari segalanya. Hari ini tepat 1 tahun kami menjadi sepasang kekasih, tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.
“Ya, ada yang ingin aku sampaikan.” Ucapku ragu-ragu.
“Ada apa?” Tanya Ahya.
“Setelah pengumuman kelulusan aku harus ikut ayah ibuku pindah ke Riau.” Aku mulai gugup menantikan respon dari Ahya.
“Kamu serius?” Ahya hanya bertanya singkat, mungkin dia sudah mengerti pekerjaan ayahku.
“Iya, ayahku harus pindah tugas ke Riau dan ayahku ingin aku ikut bersamanya dan melanjutkan sekolah disana.” Mataku mulai berlinang.
“Baiklah, aku tak mungkin juga memaksakan kehendakku hanya karena aku mencintaimu. Kalau kita jodoh, nanti pasti akan kembali lagi.” Ahya mengusap air mataku yng mulai jatuh.

Setelah pengumuman kelulusan, seperti yang telah direncanakan sebelumnya aku harus pindah. Semua sudah disiapkan, aku akan pergi meninggalkan tanah Kalimantan. Berat rasanya tapi, aku harus kuat menjalaninya.

Oh ya, namaku Hafizah Fikriah Waskan. Aku anak pertama dari 3 bersaudara dan aku anak perempuan satu-satunya. Jadi wajar saja aku sangat disayang dan dimanja. Ayahku bahkan tak ingin terpisah jauh walau hanya beda pulau.

            Hari demi hari terus berlalu, sudah terhitung 3 tahun sejak kepergianku meninggalkan tanah Kalimantan. Banyak lelaki yang mendekatiku, berusaha merebut perhatian dan kasih sayangku, namun tak ada satupun yang berhasil singgah dan menetap dihatiku.

      Sudah beberapa bulan ini kondisi udara di Riau semakin memburuk, entah hutan yang terbakar atau sengaja dibakar aku tak tahu penyebab pastinya. Kondisi kesehatanku mulai memburuk, Ujian Nasional sudah kulalui dan akhirnya ayah dengan berat hati menyuruhku kembali ke Kalimantan dan melanjutkan studiku disana. Awalnya aku menolak, aku tak bisa jauh dari ayah Tapi kerena pertimbangan yang matang akhirnya aku mengiyakan permintaan ayah.

                Kalimantan? Ya, tempat dimana dulu aku pernah membuat cerita cinta luar biasa dengan seseorang yang kini aku tak tahu ada dimana.

       Aku diterima di Universitas Lambung Mangkurat, tepatnya dijurusan Pendidikan Matematika. Hari ini pra-ospek, semua mahasiswa baru program studiku dikumpulkan, ada satu yang menarik perhatianku. Seperti aku sangat mengenalinya, tapi aku terlalu malu untuk bertanya.

     Ini saatnya semua orang mengenalkan diri, tiba giliran si cowok itu. Astaga, aku tak bisa berkata apa-apa. Ternyata dia, orang itu, orang yang pernah menjadi pelita hatiku. Ya, dia adalah Ahya. Sejak saat itu kami kembali akrab, dan akhirnya memutuskan untuk kembali menjalin kasih.