Sabtu, 06 Agustus 2016

APA HANYA AKU?

Bertahun-tahun kita dekat. Sampai aku mulai jatuh cinta, dan kamu yang pertama. 

Kita terus saja seperti ini, berapa banyak perempuan yang sudah aku temui dalam hidupmu. Fans-fans gilamu itu kadang membuatku cemburu. Mereka cantik, dan aku rasa sebagian juga baik.
Kamu ingat surat yang kamu terima dulu? Kamu bilang tak menyukainya, dan aku berusaha menutupi kecemburuanku itu. Beberapa hari kemudian aku dengar kamu sudah pacaran dengannya, hatiku terasa perih.

“Luka, tapi tak berdarah.”

Aku hanya bisa menyemangatimu setiap kau ada masalah. Seberapa hancurpun hatiku, kita tetap teman bukan? Aku selalu berharap kau juga punya perasaan sama.

Saat kamu memintaku untuk mengganti status facebook-ku menjadi pasanganmu, aku begitu senang. Seakan harapanku semakin tinggi tentangmu, tentang kita. Tapi tak lama kau kembali menggantinya tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.

Masih tergambar jelas dipikiranku, seseorang berkata agar aku menjauhimu. Kamu sudah bersama dengan temannya yang juga aku kenal. Dan itu dihari pertama sekolah, dimana harapakanku tentangmu yang begitu tinggi harus aku hancurkan demi seseorang yang baik untukmu itu.

Jujur saja, ingin rasanya aku menangis dan berteriak saat itu juga. Tapi aku tak bisa, karena aku lihat kamu juga bahagia bersamanya.

Ada sesuatu yang tak pernah ku ceritakan padamu, bahwa aku mencintaimu.

Perpisahan sekolah dulu, saat kamu tampil aku diam-diam mengambil fotomu. Aku masih menyimpannya dan kadang memandangnya.

Kita tak sedekat dulu. Tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku masih tahu bagaimana kabarmu, masih tahu apa saja yang kau lakukan.

Kamu tahu bagaimana hancurnya hatiku saat kamu tak ingin lagi berteman denganku?

Apa hanya aku yang merasakan semua ini?

Kamis, 04 Agustus 2016

ANTARA AKU DAN KAMU

Tatapan matanya terasa lebih hangat dari biasanya. Senyumnya lebih manis dari sebelumnya. Setelah malam itu, hubungan kami terasa lebih hangat, lebih dekat.

Pacaran? Tak terlintas dipikiranku memang. Aku menikmati saat-saat bersamanya, senang berada di dekatnya, bahagia melihat rupanya.

Dari tatapannya aku bisa merasakan cinta, kasih dan sayang. Tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku dan juga perasaannya. Apa ini benar-benar cinta atau hanya rasa sekejap karena kesepianku saja.

Kamu tak pernah mengucapkan cinta, akupun begitu. Tak masalah, apa yang kamu dan aku lakukan kurasa lebih bermakna dibandingkan sekedar ucapan-ucapan itu. Aku juga tak yakin kita akan baik-baik saja jika salah satu diantara kita mengucapkan hal itu.

Aku tak bisa berbohong, hatiku menginginkannya lebih dari sekedar teman. Tapi aku masih belum cukup siap membuka hati dan membuka diri untuk menjalin sebuah hubungan. Luka masa lalu dan ketakutan yang masih membayangi membuatku tak bisa menuruti hati kali ini.

Mungkin saat ini, bersahabat denganmu adalah pilihan terbaik yang bisa ku pilih.

Selasa, 02 Agustus 2016

KAMU DAN RASA YANG TAK AKU MENGERTI

Hari ini terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Reuni bersama teman-teman SMP dulu, masih sehangat 7 tahun yang lalu. Bedanya ada perasaan lain saat sekian lama aku dan kamu tak berjumpa.

Entahlah, aku juga tak paham apa yang terjadi dengan perasaanku ini. Aku tak tahu apakah kamu juga merasakan hal yang sama?

Kamu tahu? Ada yang aneh dengan hatiku ketika teman-teman kita membicarakan tentang mantan-mantanmu, walau aku juga ikut tertawa dan mengolokmu tahukah itu hanya untuk menutupi rasaku.

Apa kamu tahu, ketika teman-teman menanyakan hubunganmu dengan pacar barumu itu aku semerasa semakin aneh. Terasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentangmu. Sebelumnya aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku, sahabat yang selalu menanyakan bagaimana kabarku.

Aku hanya bisa diam sambil menatap hp dan berusaha mengalihkan fokus pikiranku darimu. Saat teman-teman mulai menggodaku, mengatakan bahwa aku diam karena cemburu, aku hanya bisa menolak dan tetap menatap hpku.

Kita tak sedekat dulu, tapi aku tak mengerti kenapa hatiku terasa aneh saat melihatmu.

Apa mungkin mereka benar?

Bahwa laki-laki dan perempuan tidak pernah bisa benar-benar bersahabat tanpa ada perasaan lebih, entah dari salah satu atau keduanya. 

Kamu tahu? Saat kita dekat dulu, aku tak pernah menganggapmu lebih dari seorang teman yang begitu aneh. Kamu berbeda dari yang lain, sikapmu yang pendiam dan lawakanmu yang tidak begitu menyenangkan itu yang membuat kita dekat.

Dan kamu tahu? Ini pertama kalinya aku menganggapmu sebagai seorang pria. :)

Senin, 18 April 2016

APA KABAR MAHASISWA KEKINIAN?



Kekinian, kata yang bisa dibilang sangat popular saat ini. Bagaimana dengan “Mahasiswa Kekinian”? Apa yang terlintas dibenak kalian saat mendengar kalimat tersebut?


                Mengutip pendapat dari seseorang yang sebenarnya gak gue kenal dia itu siapa, tinggalnya dimana, tanggal lahirnya berapa, kerjanya apa, jomblo atau taken, dan seluk beluknya seperti apa, tapi sebut saja dia Romeo. Menurut dia, Mahasiswa Kekinian itu adalah mahasiswa yang selalu mengikuti zaman, selalu update tentang hal-hal baru, mengikuti perkembangan fashion.


                Gue sebenarnya setuju dengan pendapat ini, tapi tulisan kali ini akan lebih mengedepankan opini yang sedang berkecamuk di otak gue. Gue mau menyoroti posisi mahasiswa sekarang dibandingkan dengan pergerakan mahasiswa zaman dulu.


                Mungkin ada yang ingat bagaimana hebatnya pergerakan mahasiswa dulu untuk merebut kemerdekaan melalui karya jurnalistik, atau pergerakan mahasiswa saat meruntuhkan kabinet  Soeharto. Itulah sedikit gambaran tentang bagaimana peran mahasiswa dulu.


                Sekarang ini mahasiswa seakan acuh terhadap masalah yang terjadi, banyak sekali mahasiswa yang tutup mata dengan ketidakadilan yang terjadi bahkan dihadapan mata mereka. Mungkin masih banyak yang menyuarakan ketidakadilan itu lewat media sosial, tapi bukankah satu tidakan lebih baik dari seribu kata?


                Tak ada yang salah dengan itu, tapi apa dengan menulis status menghujat dan menghina bisa memperbaiki sesuatu? Apa dengan status-status tak bermakna itu bisa membawa satu perubahan? Bahkan media sosial yang kalian gunakan tidak memiliki akses untuk bisa dilihat oleh pihak bersangkutan, apa itu yang dinamakan perjuangan? Apa itu yang dinamakan suara atas ketidakadilan?


                Menulis memang dianjurkan, tapi kalau hanya berisi hujatan atau opini sesaat yang akan hilang jika permasalahan terselesaikan walau nyatanya masalah itu bisa kembali lagi lebih baik membantu memikirkan apa solusi yang bisa dilakukan.


                Di era globalisasi sekarang ini tak dapat dipungkiri media sosial memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Kalian pasti tahu paling tidak satu akun media sosial yang mengatasnamakan mahasiswa. Contoh saja di media sosial instagram, banyak sekali akun-akun tentang mahasiswa. Tapi gue yakin kalian tahu pasti apa yang sering mereka repost di akun-akun tersebut.


                Memang benar kegiatan mahasiswa, tapi kegiatan semacam selfie atau sejenisnya itulah yang lebih banyak di-repost. Followers akun-akun tersebut juga terbilang banyak. Meskipun sesekali memposting kegiatan mahasiswa yang memang seharusnya dikedepankan, tapi lebih dominan menyoroti mahasiswa yang mereka anggap ganteng atau cantik.


                Salah satu post yang sangat popular dikalangan mahasiswa terutama saat ini adalah meme, sangat memprihatinkan memang (jika kalian memikirkan kembali apa seharusnya yang mereka dominankan dalam akun tersebut). Tapi ini juga bukan sepenuhnya salah para admin akun tersebut, mungkin mereka hanya mengikuti arus. Menyesuaikan diri dengan kehendak pasar, kehendak para followers mereka.


                Disisi lain, sekarang ini mana ada mahasiswa yang mau berunjuk rasa turun kejalan, memang sebenarnya masih ada. Tapi apakah masih bisa sehebat dan sebanyak mahasiswa dulu? Ah, banyak yang saat diberikan sedikit perlawan dari aparat saja nyalinya langsung ciut. Unjuk rasa berikutnya mana mau dia ikut lagi. Hanya segelintir mahasiswa yang peduli dengan ketidakadilan.


                Mereka menolak diam, menolak tutup mata. Mereka yang seperti ini harusnya didukung, asal yang mereka lakukan masih sesuai dengan Pancasila. Kita ini hidup di negara yang memiliki Pancasila sebagai pedoman hidup. Saat apa yang dilakukan para petinggi negara tidak sesuai dengan Pancasila, harusnya kita sebagai mahasiswa menyuarakannya, menuntut pengembalian Pancasila menjadi dasar bernegara, bukan kekuasaan dan jabatan yang menjadi dasar berjalannya negara. Yang kalau pemimpinnya berganti, semua tatanan negara juga harus berganti. Yang semua orang tunduk pada apa yang dilakukan pemerintah meski tak sesuai Pancasila. 


                Ada juga mereka yang bekerja sebagai wartawan kampus, tapi apa yang mereka tulis jauh sekali dengan apa itu persma (pers mahasiswa). Jarang sekali ada yang mengkritisi birokrasi dan permasalahan kampus, apalagi mengkritisi permasalahan negara.


                Mereka kini lebih suka menyoroti kehidupan mahasiswa, kehidupan yang jauh dari realita birokrasi. Headline yang gue rasa gak seharusnya menjadi sorotan utama mereka. Mereka seakan tak berani menyuarakan bagaimana permasalahan birokrasi yang selama ini terjadi. 


                Ketakutan dan tekanan mungkin saja terjadi. Tapi selama kita menyuarakan kebenaran apa yang harus ditakutkan?


                Warga negara yang baik bukan yang tidak pernah melanggar hukum, tapi warga negara yang baik adalah mereka yang mengembangkan ilmu pengetahuannya dan memberikan kontribusi terhadap berjalannya negara yang sesuai dengan dasarnya. 


                Dalam penulisan opini ini gue rasa banyak sekali kekurangnya. Kalau gue boleh mengenalkan diri (pasti boleh dong ya, orang ini blog gue *hehe), gue ini seorang mahasiswa semester 2 disebuah perguruan tinggi negeri yang paling terkenal ditempat gue *halah. Gue menulis opini ini karena gue gak mau jadi gila karena pendapat ini membusuk di otak gue.


                Mungkin buat kalian yang sudah baca tulisan gue sebelumnya, kalian pasti tahu kalau gue ini introvert. Gue lebih suka menyuarakan apa yang gue rasakan lewat tulisan.


NOTE : INI CUMA PENDAPAT GUE YANG GUE TULIS BERDASARKAN FAKTA-FAKTA YANG SAAT INI TERJADI.


Terima kasih  sudah mau membaca. Mohon komen kalau menurut kalian saya salah. Mari berdiskusi kakak ^^

Rabu, 23 Maret 2016

CERITAKU KINI TENTANGMU, IBU

Malam ini bulan seperti tak ingin menampakkan wajahnya, bintang yang tadinya bersinar tak terlalu terang tertutup awan yang terbawa angin dari barat daya. 

Listrik mati di pulau penuh energi seperti sudah menjadi pengantar malam setiap latihan di lapangan ini. Aku berbaring menatap langit berawan. Termenung mendengarkan apa yang dikatakan pelatihku.
Cerita yang sebelumnya selalu aku gembar-gemborkan pada dunia tentang diriku, tentang keluargaku. Ya, cerita tentang ibu.

Pikiranku terbang, melayang membayangkan apa yang aku lakukan sampai saat ini. Aku selalu menyalahkan keadaan. Tanpa aku peduli apa yang dulu dan nanti terjadi.

Sudah lebih dari 7 bulan aku jauh dari rumah, menjalani proses mewujudkan mimpi yang tanpa aku sadari aku sendiri yang merangkainya. Emosi dan keegoisan membutakan mata hati, membuatku selalu percaya ini bukan mauku, bukan keinginan dan jalan yang aku pilih.

Teringat lagi sebulan yang lalu, terakhir kali aku pulang ke rumah. Aku selalu mencari barang favoritku, laptop. Tak sengaja aku temukan sebuah buku yang akupun tak mengerti apa maksudnya. "99 Cara Mengerti Anak", judul yang sudah sedikit aku lupa. Entah ini yang membuat ibuku sedikit lebih lembut atau entahlah.

Bertemu dengan ibu, sesuatu yang selalu membuat aku canggung dan merasa aneh. Kini saat bertemu atau saat di rumah jarang sekali aku dengar ibu meninggikan suaranya seperti dulu, bahkan aku tak pernah lagi mendengarnya menegurku ketika menghabiskan makanan yang ia bawa.

Aku mulai tersadar dari lamunanku, tak terasa mataku mulai berkaca, air mata tak dapat lagi kutahan. Untung lampu masih belum menyala, jadi aku tak perlu malu untuk menyeka airmata. Kuambil hp dari dalam tas, kembali lagi aku rebahkan diri di lapangan ini.

Mencoba menghilangkan sejenak fokus pada pembicaraan coach-ku, ku mainkan game favoritku. Ah, masih tak bisa. Hatiku masih terasa ngilu, ku buka aplikasi favoritku selanjutnya, piano. Mulai ku memainkan jemari, menekan not nada secara acak. Entah sadar atau tidak, aku mulai memainkan lagu bunda.

Air mata kembali menetes, mengalir dari sisi mataku. Ku resapi setiap dentuman nada yang ku mainkan sendiri. Meresapi setiap cerita tentang ibu.

Kembali aku merenung, oh Tuhan apa yang sudah aku kira tentang ibuku? Bagaimana bisa aku tak bisa mengertinya, mengerti dia yang walau dengan kerasnya berusaha mengerti aku? Maafkan aku yang tak pernah bersyukur memiliki ibu sepertimu bu.

Kini aku tahu betapa berharganya kehadiranmu, betapa pentingnya dirimu dalam kehidupanku. Aku akan belajar mendekatkan diriku denganmu, menghancurkan egoisku yang selama ini membutakan hati dan pikiranku. Oh ibu, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan hadirmu.

Entah bagaimana aku harus mengungkapkan rasaku untukmu bu, mungkin jika ada kalimat yang lebih bermakna daripada sekedar AKU SANGAT MENCINTAIMU, itulah yang bisa menggambarkan perasaanku, IBU.

Dari anak perempuanmu yang kini berusia 18 tahun.~

Sabtu, 16 Januari 2016

I'M AN INTROVERT

PROUD TO BE AN INTROVERT

Introvert… Mungkin sudah sering terdengar ditelinga kalian. Menjadi bagian dari kaum yang mungkin hanya ada sekitar 25% dari total penduduk bumi menjadikanku seperti orang aneh dan berbeda dari manusia kebanyakan. Ya, tapi itulah yang membuat kami istimewa.

Menjadi seorang introvert memang menyenangkan, tapi tidak selamanya begitu. Kesendirian, hal yang bagiku sangat menyenangkan. Bagiku berada dalam keramaian itu terlalu menguras energi, bahkan kadang dalam keramaian aku masih merasa kesepian. Seperti sebuah quote dari satu film yang sebenarnya belum aku tonton, “Kesepian itu terjadi bukan ketika kita sendiri, namun kesepian itu terjadi ketika kita diantara banyak orang namun tidak ada yang mengerti”. Begitulah singkatnya.

Bagiku, berada ditengah keramaian bukan hanya menguras energi tapi juga membuatku merasa tidak nyaman. Terlihat seperti pemalu memang, tapi tanya saja dengan mereka yang mengenalku aku bukan seorang pemalu. Hanya tidak pernah nyaman, seperti ada sesuatu yang aneh dan mengganggu pikiranku. Apalagi saat perhatian tertuju padaku, dalam benakku selalu muncul pertanyaan “apakah ada yang salah dengan diriku?”. Terkesan aneh, tapi itulah kenyataannya.

Pemikiranku yang terlalu logis dan realistik mungkin membuat banyak orang kadang bertanya-tanya, apa mungkin aku tak punya perasaan atau apa. Aku memang tak ingin memberikan tanggapan seperti yang mungkin ada dipikiran orang kebanyakan. Melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, itulah yang aku lakukan. Aku terlalu menyukai klausa sebab-akibat, intinya sesuatu terjadi pasti ada penyebabnya jadi tak usah terlalu diributkan.

Teman akrab? Hmm… Aku tak punya banyak. Aku tak suka membicarakan orang lain dalam konteks kekurangannya. Dan aku tak begitu menyukai orang yang melakukannya. “Before judge someone or something, please look at yourself first.” Sebuah prinsip yang selalu aku pegang, karena aku sadar di dunia ini semua itu jauh dari kata sempurna. Aku adalah orang yang tak pernah bisa menceritakan tentang diriku kepada orang lain, tapi saat aku sudah merasa dekat dengan seseorang dan mempercayainya, rahasia terbesarku pun bisa saja aku ceritakan.

Aku juga tak menyukai pertentangan, itu yang membuat aku tak ingin terlalu dekat dengan sekelompok orang. Saat aku merasa mulai terlalu dekat dengan kelompok itu, satu hal yang aku lakukan adalah mulai menjauh. Apalagi saat mereka sudah mulai saling menjelekkan. Bukan tak ingin lagi berteman, hanya saja aku tak ingin berada dalam pihak manapun. Aku ingin berteman dengan semua orang, jadi jangan kalian tanyakan apapun denganku tentang sebuah pertemanan.

Tapi soal kesetiaan, tak perlu kalian ragukan. Aku memang tidak mempunyai banyak sahabat, tapi saat aku memilikinya aku tak pernah menyiakannya. Karena sangat sulit bagiku untuk menemukan seseorang yang dapat mengerti dan memahamiku. Apalagi dengan apa yang terjadi dikehidupanku, dan apa yang pernah terjadi di masa laluku.

Kadang aku memang terlihat seperti seorang yang banyak bicara,  tipe orang yang mudah bergaul, dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Tapi kenyataan mengatakan sebaliknya, banyak bicara membuatku lelah. Itu sebabnya aku sering tiba-tiba berdiam diri sesudah banyak bicara. Mudah bergaul, tidak sepernuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya salah. Aku hanya ingin berteman dengan semua orang, tapi tidak untuk dekat dengan semuanya. Soal kepercayaan diri, itu tergantung situasi.

Aku lebih menyukai bermain dengan dunia dalam pikiranku sendiri dibanding dengan dunia nyata. Aku bisa mengexplorasi alam pikiranku, membuat dunia berdasarkan imajinasi dan keinginanku sendiri. Itu sangat menyenangkan bagiku.

Begitu sulit mengucapkan sesuatu, menceritakannya lewat lisan. Itu sebabnya aku lebih suka menulis, karena tak semua yang aku ingin bagikan bisa aku ucapkan. Tapi kadang tersiksa juga, saat banyak yang ingin aku bagikan tapi dunia pikiranku terlalu banyak menampung ide tentang apa yang harus aku bagikan.

Satu quote lagi yang aku ingin bagikan, “Kegagalan berawal dari sebuah keegoisan.” Maaf jika tulisan saya mengganggu anda, hanya ingin membagikan sedikit tentang saya. Tak perlu anda percaya, yang penting anda baca :)

Selasa, 17 November 2015

IBU


Ibu, sosok yang mungkin paling kurindukan saat ini. Bukan karena dia tidak ada, tapi karena kasih sayangnya tak pernah bisa dimengerti oleh seorang gadis kecil yang belum dewasa ini. Ya, Ia sangat keras kepala. Sampai-sampai aku yang sudah berusia 17 tahun ini tak mampu menangkapnya dalam logika.

Aku dan Ibu, layaknya dua orang yang tak saling mengenal atau setidaknya hanya kenal biasa. Ibu, orang yang sibuk dengan kesibukannya, jadwal hariannya sangat padat. Bahkan hari libur pun tak menjamin ia berada di rumah. Aku tahu itu salah satu caranya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi tetap saja aku masih tak bisa mengertinya.

Aku dan Ibu, dua orang wanita yang sangat jarang saling menyapa. Mungkin itu yang membuat kami semakin menjauh. Keegoisan, keras kepala, dan selalu ingin dimenggerti adalah kesamaan yang kami miliki.

Tahukah engkau, bu?
Anak gadismu ini pernah salah arah, pernah salah langkah, pernah masuk ke dunia yang mungkin engkau sendiri tak pernah membayangkannya. Kecewa pasti jika kau tahu apa yang pernah aku alami, tapi percayalah bu anakmu ini tak pernah bermaksud seperti itu.

Kadang saat aku melihat mereka yang bisa dekat dengan orang tuanya terutama ibunya, aku sangat iri bu. Tapi tak lama aku menjadi merasa sangat hina, saat melihat orang yang bisa bahagia walau ibunya tiada. Aku merasa sangat tidak bersyukur, sangat tidak berterimakasih pada Tuhan. Bagaimana tidak, aku masih punya orang tua lengkap, aku punya ibu dan ayah. Aku tak ingin lagi menyalahkan keadaan, tak ingin lagi berharap terlahir dalam keluarga berbeda, tak ingin lagi lari dari kenyataan bahwa engkau adalah ibuku.

Aku tahu betul bahwa cinta dan kasih sayang memang tak harus selalu diucapkan dengan kata. Tapi setidaknya aku juga memerlukan itu bu. Aku membutuhkanmu disampingku. Aku juga tahu betul bahwa cinta dan kasih sayang itu bisa berbentuk apa saja, tapi tahukah engkau ibu saat engkau berkata kasar padaku atau saat kau berlaku kasar padaku saat itu juga aku semakin menutup diri darimu. Aku takut ibu.

Ibu, aku ini hanya anak kecil yang merindukanmu. Merindukan pelukkan hangatmu, sentuhan lembut tanganmu, dan ucapanmu yang mampu menenangkan jiwaku yang sedang beranjak dewasa ini. Bu, bisa kita seperti mereka di luar sana? Bisakah kita berbicara bebas berdua tanpa ada rasa canggung? Bisakah kau tak berlaku kasar padaku? Bisakah kau memberikan kasih sayangmu dengan cara yang bisa aku mengerti? Bisakah bu? Atau setidaknya ajari aku caranya mengerti dirimu.

Aku ini hanya anak gadis berusia 17 tahun yang ingin tumbuh dewasa bersama kasih sayangmu Ibu.~ HFW