Minggu, 05 Maret 2017

OUR LIFE: POHON YANG MANJA


[JANGAN BACA CAPTION INI]

Apa yang kamu pikirkan setelah melihat foto ini?

Hanya pohon tumbang? Atau yang lain?

Sadar tidak sadar, sebenarnya pohon ini menggambarkan kehidupan kita jika terlalu dimanja. Pohon ini tumbuh di wilayah rawa dimana air sangat mudah ditemukan.

Kalau kamu perhatikan, akar-akar pohon sebesar itu hanya seperti akar-akar serabut dan bergerak ke sisi, bukan ke dasar. Akar pohon tersebut tidak perlu repot-repot mencari sumber makanan, di sekitarnya sudah terdapat banyak sekali yang bisa dimakan. Pohon itu juga tumbuh besar.

Namun saat ada angin kencang menerjang, akar pohon yang hanya tumbuh di permukaan dan tidak menancap dalam itu akhirnya menyerah, pohon besar itupun tumbang.

Begitu juga kita, kesenangan itu membuat kita terlena. Orang tua yang selalu memanjakan anaknya, memberikan selalu apa yang anaknya minta. Bukan tak boleh hanya ketika sepanjang hidup kita selalu dimanja, kita akan terlena dan malas dengan yang namanya "mencari".

Kita memang tetap akan menjadi besar, tapi saat ada masalah besar menerjang, apa kita tetap bisa bertahan?

 -HFWaskan-

Rabu, 22 Februari 2017

KAMU, MIMPI YANG TETAP ADA DALAM JIWA :)


Langit mendung, terlihat awan-awan hitam mulai menutupi sebagian langit kota kali ini. Alam seolah paham, ia seolah ikut merasakan apa yang aku rasa. Air menetes tapi tak juga hujan, sama seperti air mata ini tak mampu juga aku jatuhkan.

Mungkin kita telah bertemu jauh sebelum aku benar-benar bisa mengingat namamu. Aku tersipu saat nenek mengatakan ingin menjodohkan kita, tapi aku saat itu terlalu kecil untuk memahaminya.

Rambut cepak, kaos tanpa lengan, celana jeans sobek selutut, begitu kiranya penampilanku saat pertama kali bertemu kamu. Sungguh bukan penampilan yang menarik untuk seorang gadis kelas 1 SMA, aku rasa.

Semenjak itu kita sering bertemu, tapi tak pernah bertegur sapa, tak pernah saling bicara. Hanya senyum yang sering kita lemparkan saat bertemu mata, tanpa ada kata yang terlontar pastinya.

Aku mengagumimu dalam diam. Aku ingat setiap pertemuan keluarga besar kita, makanan buatanmu selalu membuat aku ingin terus mencicipinya. Tak ada yang istimewa, hanya terasa penuh cinta.

Lama tak berjumpa, kita punya kakek yang sama namun nenek yang berbeda. Samar-samar aku ingat betapa khawatirnya kamu dengan kondisi kakek, kamu rela merelakan waktu liburmu yang hanya sebentar untuk menemaninya. Sedangkan aku? Ah, terlalu banyak alasan. Tak sibuk tapi disibuk-sibukkan.

Sampai saat itu kita masih tak saling bicara, duduk berdampingan tapi sama-sama diam tak bersuara. Seperti sibuk dalam dunia yang berbeda.

Pagi itu aku dikejutkan oleh kabar meninggalnya kakek, aku bingung, sedangkan aku masih ada final test saat itu. Dosen yang aku kabari tak merespon, aku putuskan untuk mengikuti ujian. Tak fokus, pikiranku terbagi-bagi. Setelah selesai, masih dalam seragam hitam putihku, aku harus menempuh jarak 140 lebih untuk sampai ke rumah.

Hanya 3 jam perjalanan! Masih sempat aku mengantarkan alm. Kakek, aku tak mau melakukan kesalahan kedua kalinya. Kamupun ada disana, masih sama seperti biasa. Tampak sibuk.

Aku ingat, ibu memintaku mengantarkanmu ke rumah kepala desa untuk mengurus surat izin kerja. Dan itu pertama kali kita bicara, bedua!

Entah apa yang aku pikirkan, mungkin aku sudah cukup dewasa untuk merasakan yang namanya cinta.

Aku bertanya pada ayah "Apakah sepupu boleh menikah?" dan kamu tahu siapa yang aku pikirkan, iya kamu.

"Boleh, memangnya kamu mau nikah sama siapa?" Aku hanya tersenyum kecil, tak salahkan jika aku berharap perjodohan dari nenek itu nyata?

Hari ini, aku baru merebahkan tubuhku setelah kuliah 4 sks. Ayah menelfon, aku sudah malas mengangkatnya karena aku kira ia akan kembali memintaku memeriksa data forlap diktinya.

Terdengar suara mama, badanku bergetar. Tak tahu harus berbuat apa, aku terdiam sejenak. Apa aku tidak bermimpi? Setelah bersiap, dan membatalkan janjiku hari ini, dan aku bergegas melajukan kendaraanku.

Sayup-sayup aku dengar isak tangis di rumahmu, Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu lemah untuk menangis, tak ada satupun air mata jatuh saat itu. Tak sempat aku melihat wajahmu untuk terakhir kalinya, tapi aku yakin bayangmu tak pernah hilang dari dalam jiwaku.

Ayahmu bercerita, tadi malam bahkan kamu mengatakan ingin membeli sepetak tanah untuk membuat rumah. Ah ini rupanya, selamat jalan Abang.

Meskipun kita tidak berjodoh saat ini, aku akan selalu berdoa agar Abang tenang disana. Walau masih tak percaya, tapi aku percaya Allah lebih menyayangi Abang. Dan kasih sayang Allah lebih besar daripada kami semua disini.

Terima kasih sudah pernah membuat aku merasakan rasanya ingin memiliki. :)

Minggu, 12 Februari 2017

DATANG KOK KALAU ADA PERLUNYA DOANG?

"Ah kamu mah datang kalau ada perlunya doang."

Kalimat yang mungkin pernah kita ucapkan untuk seorang "teman" yang datang hanya diwaktu tertentu. How if we change our point of view?

Tulisan ini ada karena kejenuhan serta kesadaran gue setelah kini berumur hampir 19 tahun (Ciyee yang mau ultah *skip) dan mulai punya pemikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Pertama yang mau gue sampaikan adalah, please don't take it seriously (tapi kalau kamu mau seriusin hubungan kita, aku siap kok.) karena ini hanya sebuah opini. Kalau sesuai logika kalian silakan diterima, kalau gak ya gue maksa.

Hal pertama yang harusnya disadari setiap orang bahwa kita semua adalah makhluk sosial. Yang artinya kita perlu bersosialisasi dan berinteraksi dengan manusia dan lingkungan sekitar. Jadi kalau ada orang yang antisosial, mungkin dia belajar jalan sama monyet di hutan.

Hal selanjutnya adalah bahwa manusia merupakan makhluk individu, yang punya karakteristiknya masing-masing. Setiap satu dari kita akan berbeda dengan yang lainnya. Jadi kita gak bisa mengeneralisir seseorang hanya karena satu faktor saja.

Dalam kaitannya dengan pembahasan gue ini, kesadaran kita bahwa manusia adalah makhluk sosial akan membawa kita pada suatu pengertian bahwa dalam sebuah hubungan pertemanan ada yang namanya mutualisme, saling menguntungkan. Tapi kita juga harus sadar setiap orang punya prioritasnya masing-masing, jadi gak bisa selalu ada buat kita setiap saat.

Hubungan pertemanan itu adalah hubungan saling membutuhkan, saat lu perlu sesuatu dan gue bisa bantu ok gue akan bantu. Kalau gue perlu sesuatu dan lu gak bisa bantu atau malah hilang gitu aja, apa gue harus menyalahkan lu? Gak kan?

Lu mungkin punya sejuta alasan untuk menolak permintaan gue, dan begitu juga dengan gue. Itu hak kita sebagai individu. Lu ataupun gue gak bisa mencampuri itu.

"Tapi, dia selalu ada kok buat gue. Gak kayak lu."

Ah, baca lagi buku IPS atau Sosiologinya deh. Atau simplenya baca tulisan ini dari awal lagi.

Nyatanya kita sadari atau tidak kita berteman karena ingin memanfaatkan. Ah bohong sekali kalau mengatakan tidak. Coba gue tanya, apa setiap orang bisa mengerjakan sesuatunya sendiri? Jawabannya tidak, yakan?

Bisa nangkep apa maksud gue?

Setidaknya gue berteman karena gak pengen merasakan dinginnya kesendirian.

That's just my crazy opinion, you wanna accept it or not itu hak kamu 😊

That's all :)

Senin, 21 November 2016

AKU DAN JARAK

Berkali-kali menjalin hubungan jarak jauh, tak ada yang berhasil satupun. Aku masih ingat, terakhir kali aku melakukannya hubungan itu berakhir dengan perselingkuhan yang hampir mengancam nyawaku.

Mungkin benar, kadang tak selamanya kata bisa menggambarkan perasaan. Apa yang kita rasa tidak bisa selalu kita ungkapkan lewat kata atau tulisan. Mana tahu yang bicaranya selalu bahagia, yang status atau pmnya selalu ceria selalu sejalanan dengan perasaan hatinya.

Yang dekatpun kadang masih tak bisa saling mengerti, bagaimana dengan hubungan jarak jauh ini?... "Ah itu cuma alasan kamu saja, Fe".

Alasan yang mungkin memang layak untuk aku sampaikan, karena aku tak sebaik mereka untuk menyampaikan sesuatu. Aku lebih suka menyimpan sesuatu sendiri, karena aku tak tahu bagaimana cara menyampaikannya agar orang bisa mengerti dan paham dengan apa yang aku sampaikan.

Aku tak semenyenangkan yang lain, aku juga tak bisa tampil cantik seperti gadis lain, aku pun tak bisa menjadi layaknya gadis rata-rata.

Emosiku tak selalu terkontrol, kalau aku sedang malas bicara aku tak akan bicara, kamu memaksa? Hmm... Mungkin kamu akan melihat raut masam dan nada sinis dariku.

Hubungan jarak jauh mungkin tak cocok untuk orang sepertiku, apa yang bisa kau tunjukkan pada sekitarmu jika bersamaku? Apa kau akan tetap bisa mengerti kalau aku tiba-tiba diam tanpa alasan?

Rabu, 16 November 2016

RUN!!!!!!

"Arggghhh... Panas banget sih. Kapan selesainya ini coba, aku capek." Keluhku.
"Setiap hukuman terjadi karena adanya kesalahan, walau kadang kesalahan itu terdapat pada pihak yang menghukum." Aku menoleh kearah suara.
"Bagaimana kalau kita kabur saja?" Ucapnya lagi.
"Boleh, aku sudah lelah berdiri disini." Aku mengiyakan tawarannya.
"Dalam hitungan ke 3, kita lari. Ok?" Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapannya.
"1...2...3..." Ia menggenggam tanganku lalu belari, aku tak tahu ia membawaku kemana. Aku hanya mengikuti langkahnya.
"Aku lelah..." Ucapku menghentikan langkah.
"Heiiiii... Kalian !!!!!" Belum sempat aku mengatur napas, ia kembali menarikku. Pak Adam terus mengejar kami.
Dia mengajakku bersembunyi belakang bangunan perpustakaan sekolah. "stt.. Kau diam saja." Ucapnya sambil mengamati keadaan. "Sepertinya Pak Adam tidak lagi mengejar kita."
Aku sedikit bisa bernapas dengan lega.
"Aku Rama, kamu Resty kan?" Dia mengulurkan tangannya padaku,
"Iya, kenapa kamu bisa mengenaliku? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau dari kelas berapa?" Tanyaku sambil berjabat tangan dengannya.
"Mungkin karena fansmu terlalu banyak, kau tak pernah menyadari aku yang selalu berada di dekatmu."
Aku memang tak pernah memperhatikan mereka yang menyebut mereka fansku, "Bagaimana bisa kau selalu di dekatku?" Aku sedikit kebingungan mengartikan kata-katanya.
Dia membetulkan posisi duduknya. "Apa kamu pernah mendapatkan kiriman Panda super besar ke rumahmu?"
"Hmm... Bagaimana kau tahu? Apa kau yang mengirimkannya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Apa kau mau mendengar ceritaku?" Dia bertanya,
"Boleh,"
"Dulu aku murid paling aneh di sekolah ini, memakai kaca mata, kutu buku, bahkan aku tak pernah menyentuh yang namanya sosial media." Aku memandangnya, dia menarik napas sejenak.
"Ke sekolahpun aku selalu diantar jemput tepat waktu, setelah sekolah aku mengikuti bimbingan belajar dan segala macam les yang sudah dijadwalkan orang tuaku. Tapi hari itu, supirku terlambat menjemputku karena mobilnya mogok. Aku lalu duduk sambil membaca buku di dekat lapangan Basket."
Aku sepertinya mulai mengingat sesuatu, tapi entah apa itu. Aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.
Rama kembali melanjutkan ceritanya, "Dan bukkk... Kepalaku terkena lemparan bola, seorang gadis cantik menghampiriku. Ia menanyakan keadaanku. Itu pertama kalinya dalam hidupku, dimana aku bisa merasakan jantungku seakan ingin lepas dan lari entah kemana." Aku sedikit terkekeh mendengar kalimatnya itu.
Dia hanya tersenyum, dan tetap melanjutkan ceritanya, "Aku tak pernah perduli dengan hal semacam itu. Sampai dengan bodohnya aku bertanya dengan ayahku, kata ayah mungkin saja yang aku rasa itu cinta."
"Atau mungkin hanya perasaan sekejap saja." Ucapku.
"Mungkin saja. Tapi sejak saat itu, aku mulai lebih terbuka dengan dunia luar. Aku mulai peduli dengannya. Mengirim puisi-puisi aneh yang aku tak tahu ia baca atau tidak, memberikan ia bunga meski tak tahu ia senang atau tidak, mengucapkan selamat ulang tahun meski ia tak menyadarinya, atau bahkan memberikan hadiah kecil yang mungkin tak ia tahu dari siapa. Atau lebih parah semua itu hanya berakhir di tempat sampah."
Sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini, sepertinya aku mulai paham.
"Apa aku juga boleh bercerita?" Aku meminta izin padanya.
"Silakan,"
"Aku bukanlah tipe orang yang mudah memberikan hatiku pada seseorang, aku bahkan mungkin belum pernah memberikannya. Walau kau lihat banyak laki-laki mendekatiku, tak ada satupun yang berhasil. Karena aku tahu mereka tak pernah mencintaiku sepenuhnya." Aku menghentikan ceritaku sejenak sambil membenarkan posisiku, "Biasanya aku selalu memberikan hadiah yang orang berikan padaku untuk teman-temanku, dan saat orang itu mengetahuinya ia akan mundur dan tak lagi mendekatiku. Tapi aku tak tahu, ada satu orang yang mengirimi aku bunga mawar setiap hari bahkan tanpa ada nama atau inisial yang tertera. Tak hanya itu, setiap hari aku bahkan selalu mendapat hadiah-hadiah seperti coklat atau bahkan boneka." Aku menatapnya, "Kau tahu, aku selalu menyukai panda. Tapi hanya orang ini yang memberikannya padaku, semua hal yang ia berikan selalu dengan nuansa panda dan ciri khasnya adalah tanpa nama. Dan selalu datang tepat jam 7 di depan rumahku." Ia menoleh ke arahku, ia menatapku. Keheninganpun terjadi. Aku menatap wajahnya dalam, dan semakin dalam.
"Heeiiiiii... kaliaann." Kami terkejut dan langsung menoleh ke arah suara. Itu Pak Adam.
Rama kembali menarik tanganku, sambil berlari aku tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya kini aku mulai membuka hati.

Jumat, 12 Agustus 2016

ANAK KECIL

Aku kenal banyak orang, dan semua yang aku lihat mereka selalu mengeluh karena dianggap anak kecil.

Mungkin berbanding terbalik denganku, aku selalu ingin diperlakukan sebagai anak kecil. Aku ingin dimanjakan dengan kasih sayang, aku ingin terus diingatkan, selalu ingin diperhatikan.

Bagiku tidak ada masa yang lebih menyenangkan selain saat-saat dimana aku jadi anak kesayangan. Aku tak suka dianggap dewasa dan dibiarkan memilih pilihanku sendiri, aku selalu ingin mereka tetap ikut campur dalam hidupku.

Aku masih saja iri saat ayah dan ibuku lebih memperhatikan adikku, egois memang. Aku selalu rindu mendengar teriakkan ibu membangunkanku, atau bahkan saat kasurku basah karena aku tak kunjung bangun dari tidur nyenyakku. Aku rindu, bu.

Saat aku masih sekolah dulu kalian selalu menanyakan kabarku. Apalagi saat aku harus pergi keluar kota berlomba. Tapi sekarang, aku tak pernah lagi mendengar hal seperti itu. Bisa aku hitung dengan jari tangan kananku berapa kali kalian menelfon dalam satu tahun aku disini.

Jauh dari rumah selalu membuatku rindu pulang, rindu kalian. A

Selasa, 09 Agustus 2016

BERPISAH TANPA PERPISAHAN

Disini ku menggenggam, takdir di tanganku...
Aku coba menahan, tak menangisimu...
Di bait pertama, di bait pertama...
Sekuat kaki ini, mencoba berlari...
Tetapi hati ini, menuntunnya kembali...

Lagu Bait Pertama milik Sheila on 7 menemani tangisku malam ini.

Sudah beberapa bulan semenjak hubungan kami berakhir tanpa kata perpisahan. Seingatku, aku ataupun dia tak pernah mengucapkan selamat tinggal. Tapi sekarang aku lihat dia bersama dengan kekasih barunya. Tampak sangat bahagia, sampai dia lupa aku masih jadi kekasihnya.

Tak pernah ada kata putus, tapi perlakuannya seolah aku tak pernah ada, tak pernah hadir sebagai orang spesial dalam hidupnya, atau bahkan seolah aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Aku tak bisa mengerti, sepertinya aku tak pernah jadi seseorang yang kamu anggap berarti.

Selama ini sakit dan perih hanya aku simpan sendiri. Aku selalu menanyakan tentangmu, tapi kamu tak pernah peduli dengan perasaan ini.

Aku melihat bagaimana kamu menghancurkan hidupmu, tapi aku tak pernah pergi meninggalkanmu. Entah apa yang membuatku jadi seperti ini, aku bahkan sama sekali tak mengerti.

Melepasmu tak semudah kamu melepaskanku, melupakanmu tak segampang kamu melupakanku. Kamu yang membuat aku jatuh cinta terlalu dalam, sampai-sampai saat kamu pergi bersama yang lain aku masih bisa-bisanya menunggumu dengan bodohnya disini.

Aku mungkin terlalu banyak menuntutmu, mengatur hidupmu. Tapi kamu bahkan tak pernah peduli dengan hidupmu, denganku.

Ingin rasanya aku pergi jauh melupakan sisa-sisa kenangan kita. Kamu yang tak pernah mau mengakui aku, sampai kamu mendua di depanku. Namun, aku tak berdaya. Semakin keras aku berusaha melupakanmu dan semua kenangan kita, semuanya malah tampak lebih jelas dan membuatku terus menerus menitikkan air mata.

Kamu pergi dengan menggantungkan hubungan ini. Tanpa sepatah kata, tanpa ucapan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?