Selasa, 15 September 2015

CINTA SEJATI

Itu bukan cinta...
Hanya sekedar rasa sementara
Itu bukan cinta...
Hanya sekedar nafsu belaka
Itu bukan cinta...
Hanya sekedar untaian kata

Nyatanya...
Bukan kau yang jadi prioritasnya
Nyatanya...
Bukan kau yang selalu ada dipikirannya
Nyatanya...
Bukan kau yang ada dihatinya.

Kau...
Hanya sebatas pelepas sepi
Kau...
Hanya sebatas pelarian diri
Kau...
Hanya sebatas rasa yang nyatanya tak abadi
Dan nyatanya kau...
Bukan orang yang dia anggap cinta sejati

Kamis, 18 Juni 2015

Dream, Believe, and Make It Happend ( 2 - End )

Aku tak ingat apa-apa lagi. Begitu sadar, aku sudah berada di rumah sakit, aku melihat ibuku yang berada di samping menangis sambil memegangi tanganku.
“Bu, apa yang terjadi denganku? Aku dimana sekarang?”. Aku mulai bertanya-tanya.
“Kamu ada dirumah sakit nak, kamu tak sadarkan diri dari 2 hari yang lalu karna tabrakan”. Ujar ibu menjelaskan dengan nada rendah.
“Aaaa....”. Kepalaku terasa begitu sakit, aku mencoba bangun tapi tak bisa. Otot-otot rangkaku seperti tak berada pada tempatnya dan hampir tak bisa digerakkan. Aku menangis, aku memikirkan bagaimana nasib sekolahku nanti. Aku yang saat itu harusnya ikut tes, malah terbaring lemah di rumah sakit.
“Ibu, bagaimana dengan tesku? Apa yang harus aku lakukan?” Aku menangis lebih kencang.
“Sudah nak, ibu akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Kamu tenang saja disini, cepat sembuh sayang”, Ibuku menenangkanku dan berjanji akan mengusahakan agar aku bisa ikut tes susulan. Perjuangan ibuku mengalami sedikit kendala, karena kami bukan dari keluarga yang berada. Ya tahu sendirilah bagaimana kehidupan dizaman sekarang ini, uang adalah segalanya.

Awalnya ibuku seakan menyerah dengan keadaan, tapi mengingat tekad dan kemauanku untuk menjadi dokter sangat kuat. Ibu mengesampingkan rasa egonya dan memohon pada kepala sekolah untuk memberikan kebijaksanaannya. Perjuangan ibu tak sia-sia, kepala sekolah menyetui permohonan ibu. Dan menyuruhku untuk datang satu minggu lagi.

Ibu memberitahukan kabar gembira itu, akupun sangat senang. Aku mengikuti semua saran dari Pak Dokter, agar aku bisa cepat pulih. Aku ingin sekali memakai baju seperti yang dikenakan Dokter itu, aku ingin membantu mereka yang kurang mampu seperti aku agar mereka bisa menjalani hari dengan terus tersenyum.

Hari yang ditentukan telah tiba, aku sangat bersemangat hari itu. Aku berangkat pagi sekali, aku tak ingin terlambat. Tepat jam 10, aku telah menyelesaikan soal tes kedua yang tertunda itu. Sekarang tinggal menyelesaikan dua tes lagi, tes wawancara dan tes kesehatan. Sekitar jam 2 siang, tes pun selesai. Tinggal menunggu hasilnya saja.

Hari demi hari terus berlalu, aku tak sabar mengetahui hasil perjuanganku. Akhirnya hari yang ku tunggu-tunggu tiba. Pagi itu aku sudah bergegas pergi ke sekolah, padahal setahuku pengumumannya baru diumumkan sekitar jam 11. Sambil menunggu pengumuman, aku berkenalan dengan beberapa siswa yang juga menunggu pengumuman. Satu yang paling ku ingat, Febby. Orangnya supel dan kelihatannya pintar. Gayanya yang santai dan asik diajak ngobrol juga membuatku mulai akrab dengannya. 3 jam terasa waktu yang singkat karena gurawan serta candaan-candaan yang Febby buat. Akhirnya pengumuman pun ditempel.

Astaga !! Aku tak bisa mempercayai ini. Namaku berada di 10 besar! Yang benar saja, tidak ada yang menyangka bahkan aku sendiri tidak dapat mempercayainya, orang yang dulu di Sekolah Menengah Pertama tak pernah masuk 10 besar di kelas bisa masuk 10 besar di sini. Mungkin inilah yang sering orang bilang bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses, ya aku percaya itu.

Akhirnya perjuanganku tidaklah sia-sia. Aku berhasil masuk di SMK yang memang aku impi-impikan sejak dulu. Aku sangat berterima kasih pada Restya yang selalu memotivasi dan membantuku. Dia adalah orang yang menurutku sangat berjasa untuk masa depanku. Walau kini kami jarang bertemu, karena kabar darinya dia dan keluarganya sekarang sudah pindah ke Surabaya dan sekolah di sana. Aku akan merindukanmu sahabatku tersayang, Restya.

Tentang Febby, dia kini yang menjadi sahabatku. Namun tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan jasa-jasa Restya yang sampai kini masih terbayang jelas di benakku. Bagaimana perjuangan dia untuk mengajariku yang bisa dibilang bandel dan susah dibilangin. Dia juga rela hujan-hujanan menjemputku untuk les. Ya, itu lah Restya sahabat terbaikku.

Sering aku berpikir, mengapa bisa begini? Orang yang bisa dibilang rata-rata bisa sampai sejauh ini. Tapi ya sudahlah, karena itu juga aku menjadi bersemangat belajar, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku percaya suatu hari nanti aku akan menjadi seorang dokter yang dapat mengobati dan membantu orang-orang yang memerlukan.

Seperti yang Ayahku selalu katakan “ Saat kamu bermimpi tentang hal baik, percayalah, dan berusahalah membuatnya menjadi nyata. Karena orang yang sukses luar biasa adalah orang-orang yang perkataannya sederhana, tapi tindakannya luar biasa ’’ .

Mimpi tak akan menjadi kenyataan jika tak ada kemauan untuk mewujudkan.

THE END

Rabu, 17 Juni 2015

Dream, Believe, And Make It Happen ( 1 )

Bermimpi, Percaya, dan Buat Semuanya Menjadi Nyata
By : Febby Restya Elghia Putri

"Mengetahui saja tidak cukup, kita harus mengaplikasikannya. Kehendak saja tidak cukup, kita harus mewujudkannya dalam aksi." Leonardo da Vinci
Kata-kata itu selalu terngiang di telingaku, ya aku harus bisa mewujudkan mimpiku.

Namaku Raisya, saat ini aku merupakan murid kelas XI Analis 5 di SMK Kesehatan di Jakarta. Aku memang bukan berasal dari keluarga yang berada, ayah dan ibuku hanyalah seorang guru SD. Dari kecil aku selalu bermimpi bisa menjadi dokter, aku ingin membantu orang sakit yang tak punya biaya. Aku ingin sekali membuktikan bahwa menjadi dokter tidak harus kaya.

Perjuanganku untuk mewujudkan mimpiku berawal saat aku mendaftar di salah satu sekolah kesehatan favorit. Untuk masuk seleksi awal saja tidaklah mudah, bahkan aku tak menyangka bisa lulus dan diterima disini. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama aku termasuk siswa biasa saja, karena memang SMP ku itu merupakan sekolah yang rata-rata siswanya adalah siswa yang sangat pintar. Bahkan dalam tes IQ pertama masuk, ada beberapa yang IQ-nya diatas 140, IQ rata-rata orang genius.

Saat pengumuman kelulusan aku bahkan tidak masuk 20 besar, namun cita-citaku untuk menjadi dokter tak goyah. Aku mulai intens mengikuti les IPA, terutama untuk Biologi. Aku juga sering melalukan diskusi dan mengerjakan soal-soal biologi dengan sahabatku yang juga sekelasku. Namanya Restya, dia adalah satu-satunya orang di sekolah yang percaya bahwa aku bisa lulus di SMA Kesehatan tersebut. Dia juga yang selalu memotivasi aku agar aku giat belajar dan pantang menyerah.

Hari-hari ku isi dengan belajar dan mengerjakan soal, aku juga selalu minta pendapat pada Tya ( panggilan akrabku untuk Restya ). Akhirnya waktu tes pertama pun telah tiba. Tes pertama cukup sulit, aku hampir blank karna gugup. Tapi untungnya semua berlalu dengan begitu lancarnya.

Pagi itu aku bergegas pergi untuk melihat pengumuman tes pertama. Tak disangka-sangka, aku bisa masuk dengan nilai yang bisa dibilang memuaskan. Tinggal beberapa tes lagi pikirku. Aku langsung ke rumah Tya untuk memberitahukan kabar gembira ini.
“Tya......’’ Teriakku di depan rumah Restya.
Tak berapa lama ada yang membuka pintu, “Kamu ini kenapa teriak di depan rumah orang sih? Bel ada kenapa harus teriak?” Tanya Tya dengan muka datar.
“Hehe, maaf deh. Aku kesenengan sampai lupa gini.” Jawabku meminta maaf.
“ Yaudah, masuk dulu.” Kata Tya mempersilakan masuk.
“Ok, sayang.” Kataku mesra, maklumlah kitakan cs.
Kamar Tya berada di lantai 2, sekedar info saja Restya ini adalah anak seorang pengusaha sukses. Kemewahan yang orangtuanya miliki tidak membuat dia sombong, orangnya sangat sederhana, bahkan kalau kamu gak kenal dia lebih lanjut mungkin kamu gak akan bisa nebak dari penampilannya dia anak orang kaya. Banyak yang nanya kenapa dia seperti itu, dia cuma bilang “Ngapain aku harus bermewah-mewah kalau kenyataannya kemewahan aku pakai adalah milik dan hasil kerja keras orangtuaku. My father always teach me if I wanna get the lux, I must get it with my own way and work.” Kurang keren apalagi temanku yang satu ini, selain baik dia juga pintar.
“Oh ya, kamu dapat undian apa jadi seneng banget kek gitu?’’. Tanya Tya dengan nada bercanda.
“Ini lebih bahagia dari sekedar dapat undian, kamu tau? Aku lulus seleksi pertama.” Ucapku sambil melompat dan memeluk sahabatku itu.
“Beneran? Wah selamat ya, tuh kan apa kata aku, kamu itu tuh punya bakat.” Balasnya.
“Hehe, iya sayang. Gimana kalau nanti kita makan, aku yang bayar deh.” Ucapku padanya.
“Nanti aja, nunggu kamu lulus tes terakhir aja. Mending kamu belajar lagi biar semuanya berjalan lancar.” Seperti biasa Tya selalu menolak tawaranku, dan memberi saran yang aku rasa masuk akal juga. Akupun pulang ke rumah dengan sangat gembira.

Tak terasa 2 hari berlalu. Pagi  itu tes kedua akan dilaksanakan, tak disangka hari mulai mendung, aku mulai bergegas menyalakan motorku karena takut akan kehujanan. Benar saja, di tengah perjalanan hujan mulai turun. Aku melihat kearah jam tangan yang ku pakai, astaga !!! 15 menit lagi tes akan dimulai. Aku mulai mempercepat laju kendaraanku, aku tak memperdulikan bajuku yang telah basah, yang ada dipikiranku hanya bagaimana caranya sampai di tempat tes tepat waktu.

Hujan yang begitu lebat mulai mengganggu penglihatanku. Saat aku menyalip kendaraan yang ada di depanku, aku tidak menyadari ada mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan. ‘’Brrrkkkk’’. Tabrakan pun tak terhindarkan, aku tak sadarkan diri.

Bersambung...

Rabu, 01 April 2015

The Second Love

Cinta : tak kenal waktu, tak kenal tempat, tak kenal siapa-siapa, bisa menyerang siapa saja dengan cara yang tak terduga.

Cinta .... hm ... sudah terlalu lama semenjak cinta pertamaku dulu yang terpaksa kulupakan sebelum sempat diketahui pemiliknya. Aku hampir lupa bagaimana rasanya saat jatuh cinta, bahkan aku hampir saja lupa apa aku pernah mengalaminya akan tidak.

" Febby...... " teriak seseorang yang sepertinya aku kenal suaranya. Aku menengok ke arah suara.
" Hei.. rupanya kamu, Tha. Ada apa?" tanyaku pada Ditha, sahabat karibku.
"Jadikan malam nanti kita ke ultahnya Ghina?" tanya Ditha, hampir saja aku lupa.
"Ya jadilah, jemput gue yah nanti," ujarku mengiyakan.
"Ok. Gue masuk kelas dulu ya, jam pelajarannya ibu Henni nih, takut dihukum lagi gue Hehe," Ujarnya sambil berjalan ke kelasnya.
"Dasar si Ditha, main kabur aja. Hadehh..." ujarku.

Febby Restya Elghia Putri, ya itulah namaku. Agak terlalu panjang dan gak jelas apa artinya. Orang yang humoris tapi kadang bisa jadi orang yang paling pendiam sedunia. Orang yang pertama kali ketemu sama gue pasti bakal nganggep gue kalem, tapi kalian harus tau mungkin cuma Ditha dan Tuhan yang tau gimana gilanya gue.

Trauma, mungkin tepat untuk menggambarkan perasaan gue tentang cinta. Hmm.... dua tahun berkhayal dalam harapan mendapatkan cinta seorang cowok yang notabennya adalah sahabat gue sendiri emang gak mudah, ditambah dengan ketidakmampuan gue mengungkapkan perasaan gue. Ya maklumlah dalam pikiran gue, masa cewek sih yang nyatain cinta duluan. Sampai akhirnya gue nyesel-senyeselnya, ternyata dia sudah jadian sama teman gue juga.

Semenjak kejadian itu aku mulai menutup diri dari namanya cinta, dan mulai berusaha melupakan sang cinta pertama. Melupakan seseorang yang pernah ada di hati memang tak mudah, gak seperti teori-teori cinta yang selama ini gue pelajari. Lelah mencari cara melupakannya dan akhirnya gue nyerah, gue berhenti berusaha melupakan dan membiarkan rasa itu ada. Sampai suatu saat......

"Teng..tong..." bel rumahku berbunyi.
"Pasti si Ditha nih," pikirku. Akupun berlari ke pintu.
"Tuhkan tebakan gue bener, masuk Tha," ucap gue, sambil mempersilakan Ditha masuk.
"Tha, lu duduk dulu yah. Tunggu bentar gue mau ambil tas," gue langsung menuju kamar untuk mengambil barang yang gue perluin.
"Ok," jawab Ditha singkat.
Sesaat kemudiaan.....
"Berangkat yuk. Gue ikut mobil lu yah, mobil gue masih di bengkel," "yaudah kalau gitu," kami langsung menuju rumah Ghina.

Oh ya Ghina itu teman kami dari kecil, dia dulu tinggal di surabaya sama neneknya tapi sekarang balik lagi ke jakarta dan katanya sih mau masuk sekolah gue juga.

Sesampainya di rumah Ghina, kita langsung masuk dan mencari Ghina. Dan gak gue sangka ....

"Itu Ghina bukan sih, Tha? Cantik banget yah," ucapku sambil melongo tak percaya.
"Iya beda banget waktu dulu masih kecil, dia kan yang paling jelek dan culun. Tapi sekarang udah kek putri aja," balas Ditha yang juga tak percaya dengan apa kami lihat, kami langsung mendekatinya.
"Hei, kamu Ghina bukan?" Tanyaku ragu-ragu.
"Iya, masa kalian lupa sama aku sih? Dari kandungan udah temenan kok bisa lupa," ledek Ghina.
"Bukannya lupa, cuma agak ragu aja. Soalnya kamu cantik banget sih, beda sama dulu waktu kecil, hehe" ucapku.
"Bener tuh, kamu kok gak pernah jengukin kita disini sih? Hampir 5 lebih kayaknya kita gak ngumpul kek gini yah, kangen banget," Ditha ikut ngobrol.
"Hehe, maaf deh. Tapi akukan udah disini lagi bareng kalian ;) jadi kita bisa ngumpul lagi kek dulu," ujar Ghina.
"Yaudah deh, kapan kamu mulai masuk sekolah? Nanti kita jemput :D" kataku pada Ghina.
"Senin depan udah mulai sekolah, kalau mau jemput jangan telat yah, kamu kan telat mulu biasanya," balas ghina meledekku.
Seru sekali bercerita dengan Ghina, tak terasa waktu berlalu, kami disuruh makan. Karena tak kunjung mendapatkan meja yang kosong, akhirnya kami duduk bersama seorang cowok yang wajahnya cukup familiar bagi ku.
"Mas, boleh duduk di sini? Yang lain udah penuh semua nih," aku bertanya.
"Boleh, duduk aja kosong kok," katanya mempersilakan.
"Kayaknya kita sering ketemu tapi dimana yah?" Tanyaku memulai pembicaraan.
"Mbak lupa ya? Kita kan satu sekolah. Aku Rama kelas XI IPS 2," Jawabnya sambil mengenalkan diri.
"Aku Febby kelas XII IPA 3, pantes aja kek sering liat. Orang tiap hari lewat depan kelas kamu, hehe" Ucapku.
"Aku juga sering kok liat si mbaknya, tapi beda banget sama tampilan biasanya di sekolah," Kata Rama kelihatan sedikit bingung.
"Jangan panggil mbak dong, panggil Febby aja, gak beda jauh juga kok umur kita. Wah, emang kenapa sama penampilan aku? Ada yang salah yah?" Tanyaku kebingungan.
"Gak kok, kalau di sekolah ky gak peduli gitu sama penampilan, hehe" Ujarnya sambil tertawa kecil.
"Haha, emang gitu Febby mah, kalau gak gitu bukan Febby namanya," Ditha ikut bicara.
"Udahan dulu ngobrolnya, abisin dulu makanannya, keburu dingin," Ghina menyadarkan kami.

"Woyy... ngapain bengong gitu? Mikirin apaan sih Feb?" Ditha mengejutkanku.
"Kebiasaan ya lu itu, kalau gur jantungan gimana? Tega lu?" Kataku dengan sewot.
"Hehe, maaf maaf. Eh si Ghina masih di ruang kepala sekolah yah? Semoga aja dia masuk kelas gue," Ucap si Ditha.
"Enak aja, di kelas gue dong. Lagian gue juga duduk sendirian jadi pas tuh gue sama dia," Ujar gue berargumen.
"Kita liat aja nanti, jangan-jangan dia masuk di kelas lain," Ditha mengira-ngira.
"Semoga aja gak," Balasku.
"Amin... eh gue masuk dulu ya, itu ibu Ina udah otw tuh lu gak masuk apa?" Ujar Ditha menegurku.
"Masuklah, yaudah sana. Gue juga mau ke kelas," Sahutku.

Bersambung......