Senin, 21 November 2016

AKU DAN JARAK

Berkali-kali menjalin hubungan jarak jauh, tak ada yang berhasil satupun. Aku masih ingat, terakhir kali aku melakukannya hubungan itu berakhir dengan perselingkuhan yang hampir mengancam nyawaku.

Mungkin benar, kadang tak selamanya kata bisa menggambarkan perasaan. Apa yang kita rasa tidak bisa selalu kita ungkapkan lewat kata atau tulisan. Mana tahu yang bicaranya selalu bahagia, yang status atau pmnya selalu ceria selalu sejalanan dengan perasaan hatinya.

Yang dekatpun kadang masih tak bisa saling mengerti, bagaimana dengan hubungan jarak jauh ini?... "Ah itu cuma alasan kamu saja, Fe".

Alasan yang mungkin memang layak untuk aku sampaikan, karena aku tak sebaik mereka untuk menyampaikan sesuatu. Aku lebih suka menyimpan sesuatu sendiri, karena aku tak tahu bagaimana cara menyampaikannya agar orang bisa mengerti dan paham dengan apa yang aku sampaikan.

Aku tak semenyenangkan yang lain, aku juga tak bisa tampil cantik seperti gadis lain, aku pun tak bisa menjadi layaknya gadis rata-rata.

Emosiku tak selalu terkontrol, kalau aku sedang malas bicara aku tak akan bicara, kamu memaksa? Hmm... Mungkin kamu akan melihat raut masam dan nada sinis dariku.

Hubungan jarak jauh mungkin tak cocok untuk orang sepertiku, apa yang bisa kau tunjukkan pada sekitarmu jika bersamaku? Apa kau akan tetap bisa mengerti kalau aku tiba-tiba diam tanpa alasan?

Rabu, 16 November 2016

RUN!!!!!!

"Arggghhh... Panas banget sih. Kapan selesainya ini coba, aku capek." Keluhku.
"Setiap hukuman terjadi karena adanya kesalahan, walau kadang kesalahan itu terdapat pada pihak yang menghukum." Aku menoleh kearah suara.
"Bagaimana kalau kita kabur saja?" Ucapnya lagi.
"Boleh, aku sudah lelah berdiri disini." Aku mengiyakan tawarannya.
"Dalam hitungan ke 3, kita lari. Ok?" Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapannya.
"1...2...3..." Ia menggenggam tanganku lalu belari, aku tak tahu ia membawaku kemana. Aku hanya mengikuti langkahnya.
"Aku lelah..." Ucapku menghentikan langkah.
"Heiiiii... Kalian !!!!!" Belum sempat aku mengatur napas, ia kembali menarikku. Pak Adam terus mengejar kami.
Dia mengajakku bersembunyi belakang bangunan perpustakaan sekolah. "stt.. Kau diam saja." Ucapnya sambil mengamati keadaan. "Sepertinya Pak Adam tidak lagi mengejar kita."
Aku sedikit bisa bernapas dengan lega.
"Aku Rama, kamu Resty kan?" Dia mengulurkan tangannya padaku,
"Iya, kenapa kamu bisa mengenaliku? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, kau dari kelas berapa?" Tanyaku sambil berjabat tangan dengannya.
"Mungkin karena fansmu terlalu banyak, kau tak pernah menyadari aku yang selalu berada di dekatmu."
Aku memang tak pernah memperhatikan mereka yang menyebut mereka fansku, "Bagaimana bisa kau selalu di dekatku?" Aku sedikit kebingungan mengartikan kata-katanya.
Dia membetulkan posisi duduknya. "Apa kamu pernah mendapatkan kiriman Panda super besar ke rumahmu?"
"Hmm... Bagaimana kau tahu? Apa kau yang mengirimkannya?" Tanyaku ragu-ragu.
"Apa kau mau mendengar ceritaku?" Dia bertanya,
"Boleh,"
"Dulu aku murid paling aneh di sekolah ini, memakai kaca mata, kutu buku, bahkan aku tak pernah menyentuh yang namanya sosial media." Aku memandangnya, dia menarik napas sejenak.
"Ke sekolahpun aku selalu diantar jemput tepat waktu, setelah sekolah aku mengikuti bimbingan belajar dan segala macam les yang sudah dijadwalkan orang tuaku. Tapi hari itu, supirku terlambat menjemputku karena mobilnya mogok. Aku lalu duduk sambil membaca buku di dekat lapangan Basket."
Aku sepertinya mulai mengingat sesuatu, tapi entah apa itu. Aku tak bisa mengingatnya dengan jelas.
Rama kembali melanjutkan ceritanya, "Dan bukkk... Kepalaku terkena lemparan bola, seorang gadis cantik menghampiriku. Ia menanyakan keadaanku. Itu pertama kalinya dalam hidupku, dimana aku bisa merasakan jantungku seakan ingin lepas dan lari entah kemana." Aku sedikit terkekeh mendengar kalimatnya itu.
Dia hanya tersenyum, dan tetap melanjutkan ceritanya, "Aku tak pernah perduli dengan hal semacam itu. Sampai dengan bodohnya aku bertanya dengan ayahku, kata ayah mungkin saja yang aku rasa itu cinta."
"Atau mungkin hanya perasaan sekejap saja." Ucapku.
"Mungkin saja. Tapi sejak saat itu, aku mulai lebih terbuka dengan dunia luar. Aku mulai peduli dengannya. Mengirim puisi-puisi aneh yang aku tak tahu ia baca atau tidak, memberikan ia bunga meski tak tahu ia senang atau tidak, mengucapkan selamat ulang tahun meski ia tak menyadarinya, atau bahkan memberikan hadiah kecil yang mungkin tak ia tahu dari siapa. Atau lebih parah semua itu hanya berakhir di tempat sampah."
Sepertinya aku mulai mengerti arah pembicaraan ini, sepertinya aku mulai paham.
"Apa aku juga boleh bercerita?" Aku meminta izin padanya.
"Silakan,"
"Aku bukanlah tipe orang yang mudah memberikan hatiku pada seseorang, aku bahkan mungkin belum pernah memberikannya. Walau kau lihat banyak laki-laki mendekatiku, tak ada satupun yang berhasil. Karena aku tahu mereka tak pernah mencintaiku sepenuhnya." Aku menghentikan ceritaku sejenak sambil membenarkan posisiku, "Biasanya aku selalu memberikan hadiah yang orang berikan padaku untuk teman-temanku, dan saat orang itu mengetahuinya ia akan mundur dan tak lagi mendekatiku. Tapi aku tak tahu, ada satu orang yang mengirimi aku bunga mawar setiap hari bahkan tanpa ada nama atau inisial yang tertera. Tak hanya itu, setiap hari aku bahkan selalu mendapat hadiah-hadiah seperti coklat atau bahkan boneka." Aku menatapnya, "Kau tahu, aku selalu menyukai panda. Tapi hanya orang ini yang memberikannya padaku, semua hal yang ia berikan selalu dengan nuansa panda dan ciri khasnya adalah tanpa nama. Dan selalu datang tepat jam 7 di depan rumahku." Ia menoleh ke arahku, ia menatapku. Keheninganpun terjadi. Aku menatap wajahnya dalam, dan semakin dalam.
"Heeiiiiii... kaliaann." Kami terkejut dan langsung menoleh ke arah suara. Itu Pak Adam.
Rama kembali menarik tanganku, sambil berlari aku tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya kini aku mulai membuka hati.

Jumat, 12 Agustus 2016

ANAK KECIL

Aku kenal banyak orang, dan semua yang aku lihat mereka selalu mengeluh karena dianggap anak kecil.

Mungkin berbanding terbalik denganku, aku selalu ingin diperlakukan sebagai anak kecil. Aku ingin dimanjakan dengan kasih sayang, aku ingin terus diingatkan, selalu ingin diperhatikan.

Bagiku tidak ada masa yang lebih menyenangkan selain saat-saat dimana aku jadi anak kesayangan. Aku tak suka dianggap dewasa dan dibiarkan memilih pilihanku sendiri, aku selalu ingin mereka tetap ikut campur dalam hidupku.

Aku masih saja iri saat ayah dan ibuku lebih memperhatikan adikku, egois memang. Aku selalu rindu mendengar teriakkan ibu membangunkanku, atau bahkan saat kasurku basah karena aku tak kunjung bangun dari tidur nyenyakku. Aku rindu, bu.

Saat aku masih sekolah dulu kalian selalu menanyakan kabarku. Apalagi saat aku harus pergi keluar kota berlomba. Tapi sekarang, aku tak pernah lagi mendengar hal seperti itu. Bisa aku hitung dengan jari tangan kananku berapa kali kalian menelfon dalam satu tahun aku disini.

Jauh dari rumah selalu membuatku rindu pulang, rindu kalian. A

Selasa, 09 Agustus 2016

BERPISAH TANPA PERPISAHAN

Disini ku menggenggam, takdir di tanganku...
Aku coba menahan, tak menangisimu...
Di bait pertama, di bait pertama...
Sekuat kaki ini, mencoba berlari...
Tetapi hati ini, menuntunnya kembali...

Lagu Bait Pertama milik Sheila on 7 menemani tangisku malam ini.

Sudah beberapa bulan semenjak hubungan kami berakhir tanpa kata perpisahan. Seingatku, aku ataupun dia tak pernah mengucapkan selamat tinggal. Tapi sekarang aku lihat dia bersama dengan kekasih barunya. Tampak sangat bahagia, sampai dia lupa aku masih jadi kekasihnya.

Tak pernah ada kata putus, tapi perlakuannya seolah aku tak pernah ada, tak pernah hadir sebagai orang spesial dalam hidupnya, atau bahkan seolah aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Aku tak bisa mengerti, sepertinya aku tak pernah jadi seseorang yang kamu anggap berarti.

Selama ini sakit dan perih hanya aku simpan sendiri. Aku selalu menanyakan tentangmu, tapi kamu tak pernah peduli dengan perasaan ini.

Aku melihat bagaimana kamu menghancurkan hidupmu, tapi aku tak pernah pergi meninggalkanmu. Entah apa yang membuatku jadi seperti ini, aku bahkan sama sekali tak mengerti.

Melepasmu tak semudah kamu melepaskanku, melupakanmu tak segampang kamu melupakanku. Kamu yang membuat aku jatuh cinta terlalu dalam, sampai-sampai saat kamu pergi bersama yang lain aku masih bisa-bisanya menunggumu dengan bodohnya disini.

Aku mungkin terlalu banyak menuntutmu, mengatur hidupmu. Tapi kamu bahkan tak pernah peduli dengan hidupmu, denganku.

Ingin rasanya aku pergi jauh melupakan sisa-sisa kenangan kita. Kamu yang tak pernah mau mengakui aku, sampai kamu mendua di depanku. Namun, aku tak berdaya. Semakin keras aku berusaha melupakanmu dan semua kenangan kita, semuanya malah tampak lebih jelas dan membuatku terus menerus menitikkan air mata.

Kamu pergi dengan menggantungkan hubungan ini. Tanpa sepatah kata, tanpa ucapan apa-apa. Lalu aku harus bagaimana?

Minggu, 07 Agustus 2016

BERTEMAN DENGAN MASA LALU :)

Aku berjalan menjauh darimu, dan tak lama kulihat kamu berlari mengejarku. Aku tak peduli, aku terus lanjutkan hidupku. Tanpamu.

Melupakanmu memang butuh waktu yang lama, tapi aku yang memutuskan pergi. Jadi tak ada alasan untuk bersedih atas sebuah konsekuensi.

Meskipun kadang air mata juga mengikuti, tapi aku bersyukur kamu tak melihat itu jatuh dari mataku.

Kita telah lama berada di jalan yang salah, dan saat aku menyadarinya mengapa kamu tak juga mengerti? Bahwa kita tak seharusnya bersama lagi.

Aku sudah lupa apa saja yang pernah kamu ceritakan padaku. Setelah pergi darimu, aku mulai menyadari sesuatu. Bertahun-tahun mengenalmu tak ada satupun yang aku tahu tentangmu. Kamu tak pernah jujur denganku, hanya itu yang sekarang aku tahu.

Aku sedikit menengok ke belakang. Aku lihat sepertinya kamu mulai lelah dengan usahamu untuk kembali padaku. Sepertinya saat kamu mengejarku kamu bertemu seseorang yang terlihat menarik bagimu. Atau mungkin sebelum aku pergi, kamu sudah menemukan orang itu. Aku tak tahu.

Kamu tahu betul bahwa aku tak pernah membencimu, walau terkadang tanpa aku sadari aku begitu kecewa dengan perlakuanmu. Kita berpisah bukan karena itu, tapi karena aku yang tak bisa terus bersamamu dalam ikatan yang tidak wajar ini. Dan kamu tahu itu.

Akrab dengan semua orang? Aku rasa kamu begitu tahu tentang sifatku itu. Bahkan aku tetap menyapamu meski tak sehangat dulu. Aku tetap berjalan pada jalanku, bukan lagi pada jalan kita yang sampai saat ini tetap menjadi jalanmu. 

Sesekali aku bertemu dengan orang yang pernah mewarnai masa laluku, tapi bukan berarti aku ingin mengulang masa itu. Aku rasa tak ada yang salah dengan tetap berteman dengan masa lalu. Selama jalanku tetap seperti yang aku yakini, aku tak pernah mempermasalahkan berteman denganmu.

Aku tak akan lagi mengurusi hidupmu. Tapi jika kamu perlu aku sebagai teman, aku akan lakukan itu. Seorang teman akan selalu membantumu. :)

Sabtu, 06 Agustus 2016

APA HANYA AKU?

Bertahun-tahun kita dekat. Sampai aku mulai jatuh cinta, dan kamu yang pertama. 

Kita terus saja seperti ini, berapa banyak perempuan yang sudah aku temui dalam hidupmu. Fans-fans gilamu itu kadang membuatku cemburu. Mereka cantik, dan aku rasa sebagian juga baik.
Kamu ingat surat yang kamu terima dulu? Kamu bilang tak menyukainya, dan aku berusaha menutupi kecemburuanku itu. Beberapa hari kemudian aku dengar kamu sudah pacaran dengannya, hatiku terasa perih.

“Luka, tapi tak berdarah.”

Aku hanya bisa menyemangatimu setiap kau ada masalah. Seberapa hancurpun hatiku, kita tetap teman bukan? Aku selalu berharap kau juga punya perasaan sama.

Saat kamu memintaku untuk mengganti status facebook-ku menjadi pasanganmu, aku begitu senang. Seakan harapanku semakin tinggi tentangmu, tentang kita. Tapi tak lama kau kembali menggantinya tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.

Masih tergambar jelas dipikiranku, seseorang berkata agar aku menjauhimu. Kamu sudah bersama dengan temannya yang juga aku kenal. Dan itu dihari pertama sekolah, dimana harapakanku tentangmu yang begitu tinggi harus aku hancurkan demi seseorang yang baik untukmu itu.

Jujur saja, ingin rasanya aku menangis dan berteriak saat itu juga. Tapi aku tak bisa, karena aku lihat kamu juga bahagia bersamanya.

Ada sesuatu yang tak pernah ku ceritakan padamu, bahwa aku mencintaimu.

Perpisahan sekolah dulu, saat kamu tampil aku diam-diam mengambil fotomu. Aku masih menyimpannya dan kadang memandangnya.

Kita tak sedekat dulu. Tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Aku masih tahu bagaimana kabarmu, masih tahu apa saja yang kau lakukan.

Kamu tahu bagaimana hancurnya hatiku saat kamu tak ingin lagi berteman denganku?

Apa hanya aku yang merasakan semua ini?

Kamis, 04 Agustus 2016

ANTARA AKU DAN KAMU

Tatapan matanya terasa lebih hangat dari biasanya. Senyumnya lebih manis dari sebelumnya. Setelah malam itu, hubungan kami terasa lebih hangat, lebih dekat.

Pacaran? Tak terlintas dipikiranku memang. Aku menikmati saat-saat bersamanya, senang berada di dekatnya, bahagia melihat rupanya.

Dari tatapannya aku bisa merasakan cinta, kasih dan sayang. Tapi aku masih belum yakin dengan perasaanku dan juga perasaannya. Apa ini benar-benar cinta atau hanya rasa sekejap karena kesepianku saja.

Kamu tak pernah mengucapkan cinta, akupun begitu. Tak masalah, apa yang kamu dan aku lakukan kurasa lebih bermakna dibandingkan sekedar ucapan-ucapan itu. Aku juga tak yakin kita akan baik-baik saja jika salah satu diantara kita mengucapkan hal itu.

Aku tak bisa berbohong, hatiku menginginkannya lebih dari sekedar teman. Tapi aku masih belum cukup siap membuka hati dan membuka diri untuk menjalin sebuah hubungan. Luka masa lalu dan ketakutan yang masih membayangi membuatku tak bisa menuruti hati kali ini.

Mungkin saat ini, bersahabat denganmu adalah pilihan terbaik yang bisa ku pilih.